Walikota Medan Harus Mencabut Izin “Si Tupark” yang Memaksa Minta Uang Parkir Sama Konsumen

211

MEDAN ketikberita.com | Kami para pengendara roda 2, roda 3 dan roda 4, keberatan atas tindakan para ” Si Tupark” atau Si Tukang Parkir jika memaksa minta uang parkir kepada para pengendara, khususnya para Ojol.

Karena para Si Tupark tidak punya hak memaksa para pengendara, jika si pengendara pas kebetulan lagi tidak bawa uang. Karena zona wilayah “Si Tupark” melakukan parkirnya, bukan halaman rumah mereka, jadi para Si Tupark atau Si Tukang Parkir tidak boleh memaksa jika para pengendara pas kebetulan tidak bawa uang. Khususnya para pengendara seluruh Ojol (Go-Jek, Grab, Indriver, Oke Jeck, dan Maxim).

Apalagi zaman sekarang kan zaman yang sulit mencari uang, kita tahu bahwa para “Si Tupark” pun sulit juga mencari nafkah. Tapi para pengendara pun tidaknya pelit jika punya rezeki, seharusnya harga karcis Rp 1000, ketika si Pengendara roda 2 khususnya para Ojol, ketika banyak mendapat orderan, pasti lah kami kasih Rp 2000, tapi jika si pengendara roda 2 khususnya para Ojol, jika si pengendara tersebut pas lagi tidak membawa uang, ataupun membawa uang pas-pasan, pasti kan uang parkir tidak bisa dibayarnya.

Begitu juga para Ojol, ketika baru narik atau pas lagi apes orderan dapatnya sedikit, gimana para pengendara Ojol bisa membayar parkir. Hal tersebut diungkapkan salah satu pengendara Hendra.

Lanjut Hendra, kami pun para pengendara kalau lagi punya rezeki, pastilah kami kasih lebih,tapi jika kami membawa uang pas-pasan atau ketika belanja habis uangnya tidak ada sisa, kami kan sudah “Minta Maaf” sama para ” Si Tuparknya” bahwa uangnya habis buat belanja tidak ada sisa. Karena pengalaman saya pernah ketika saya habis uang untuk belanja untuk dapur rumah, dan Bang “Si Tuparknya” minta uang parkir, saya sudah bilang ” Minta Maaf” bahwa uang saya pas lagi habis belanja, para Si Tuparknya memaksa minta uang parkir, dan merepet-merepet dengan alasan bahwa mereka menyetor lagi, saya tanya sama siapa “Abang” menyetor uang Parkir, pihak Si Tupark atau Si Tukang Parkirnya tidak mau menjawabnya dan langsung pergi.

Begitu juga diungkapkan salah satu Wartawan Kota Medan bernama Roni, juga menjelaskan pengalamannya dengan para Si Tupark, saya (Roni Red-) sedang belanja ke Indomart dengan anak, kebetulan saya membawa uang hanya 10.000 membeli minuman Yakult untuk anak saya, kebetulan harga Yakult pas Rp 10.000, para Si Tupark minta uang parkir, saya bilang ” Maaf Bang”, uang saya pas beli Yakult Rp 10.000. Para Si Tupark memaksa minta uang parkir, saya menjawab tidak ada bang pas 10.000 uang belanjanya.

Mereka terus berdalih menyetor lagi, karena saya Wartawan saya tanya, Abang setornya sama siapa, apakah sama Pemerintah atau Setor sama para OKP atau Ormas atau para Oknum Aparat. Jumpakan saya sama siapa Abang Setor. Biar saya buat beritanya. Bang Si Tuparknya atau Si Tukang Parkirnya langsung pergi karena yang nanya itu Wartawan.

Maka nya banyak supermarket diantaranya Indomart, Alfamart dan Alfamidi sepi, karena masih ada yang minta uang parkir. Lebih bagus para pengendara membeli belanja ditempat tidak ada parkirnya.

Begitu juga dengan salah satu Ojol Go-Jek ISAT mengatakan bahwa pengalaman saya dengan para “Si Tupark” alias Si Tukang Parkir ketika saya mendapat orderan di daerah jalan Gajah Mada, jalan Serdang, jalan Asia. Para Si Tupark juga memaksa para Ojol meminta uang parkir, padahal saya sudah bilang kalau saya baru aja keluar narik, dari mana saya mau bayar parkir nya walaupun Rp 500, lagian orderan semua para Ojol lagi sepi dengan keadaan Pandemi ini. Jadi saya “Minta Maaf” tidak bisa bayar uang parkir nya.

Bang Si Tupark alias Si Tukang Parkirnya juga terus memaksa minta uang parkir, bahkan mengatakan “jangan Abang parkir kendaraan lagi di tempat ini, jika tidak mau bayar parkir, saya langsung menjawab ” apakah tanah tempat Abang Kerja ini tempat “Nenek Moyang” lu, ini kan tanah Umum.

Kecuali saya meletakkan kendaraan di tanah Nenek Moyang Abang, baru saya kasih uang Parkir. Jadi tolong kami semua Ojol jangan dipaksa Bang Si Tupark, jika kami lagi baru narik atau pas lagi apes orderan.

Tapi jika kami banyak dapat Orderan, Abang Minta parkir Rp 1000, saya kasih 2000. Abang harus mengerti juga dengan keadaan sekarang ini. Para Konsumen udah tidak mau belanja lagi, karena para Pengusaha Kuliner tidak lagi memberikan Promo. Abang macam tidak tau aja anak Medan, jika tidak ada Promosi harga, tidak mau beli lagi.

Lanjut ISAT, Kami mohon kepada Pemerintah yakni Walikota, Dishub dan Kepolisian, untuk menangkap dan menghentikan Izin para “Si Tupark” untuk memaksa kami para pengendara roda 2 dan roda 4 khususnya kami semua Ojol, jika kami sudah “Minta Maaf” tidak bawa uang atau lagi sepi orderan, tolong jangan dipaksa lagi dengan alasan Setoran Ke Atas. Lagian Kota Medan sudah aman,sudah banyak CCTV di setiap Lampu Merah, jadi tidak perlu dijaga lagi kendaraan kami.

Tapi kalau untuk meminimalisir pengangguran saya setuju, tapi jangan dipaksa gitu dong. Kami pun juga para Ojol tidak pelit jika kami banyak dapat orderan banyak, karena Rezeki itu tidak mungkin semua kami genggam, pastilah kami bagi rezeki itu.

Karena Allah pun marah jika kita memaksa orang diminta uangnya, padahal orang tersebut sudah minta maaf gak bawa uang atau kami para Ojol juga sudah minta maaf bahwa kami baru narik atau kami pas lagi apes orderan. Jauh Rezeki itu Bang Si Tupark atau Bang Si Tukang Parkir, jika dipaksa minta uang orang. Itu namanya menarik rezeki dari kantong orang karena terpaksa dan dipaksakan.

Jadi tolonglah Pak Walikota bagi kami para Ojol, untuk di tiadakan uang parkir, atau pun Cabut Izin Para Si Tupark, jika memaksa kami para Ojol untuk diminta uang parkir. Bila perlu di Tangkap aja, karena banyak sekali Parkir Siluman dan Parkir Ninja di Kota Medan ini.

Karena yang resmi itu hanya di Mall yang masuk ke Pemerintah untuk PAD Kota Medan, kalau di Jalan umum itu para Si Tupark alias Si Tukang Parkir menyetor dengan para OKP, Ormas ataupun Oknum Aparat, baik itu Aparat Kepolisian ataupun Oknum Aparat Dishub yang tidak diketahui oleh Kepala Dinasnya bermain.

Kami pun tau bahwa Rezeki itu pasti kami akan beri, tapi jangan dipaksa kami harus memberikan uang Parkir sama para Si Tupark tersebut, karena kami parkir kan tidak di Tanah halaman para Si Tupark tersebut, kecuali kami meletekkan kendaraan dihalaman nya, baru mereka bisa memaksa seluruh pengendara termasuk kami para Ojol.

Hal senada juga diungkapkan salah satu mantan Tukang Parkir Era 90an yang sekarang sudah jadi Ojol, saya selalu di minta sama tukang parkir uang. Padahal saya meletakkan kendaraan saya agak jauh berkisar 50 meter, tapi para Si Tupark mengejar saya dengan mengklame bahwa, area tempat saya parkir juga kena parkir, saya (Aan Red-) mengatakan bahwa jauh kali Abang meminta uang parkir, sementara area tempat Abang kerja hanya 5 meter atau 10 meter, kenapa abang kejar saya sampai 50 meter lebih.

Tidak boleh seperti itulah bang, sesuai kan aja area kerja tempat Abang parkir, janganlah terlalu jauh kali Abang sampai 50 meter, bahkan saya melihat Abang mengejar sampai 100 meter, padahal Abang tidak melihat si pengendara Ojol masuk, Abang melihatnya pas selesai dia keluar, Abang kejar lalu minta uang parkir. Dan Abang paksa pulak itu Pengendara harus membayar uang Parkir. Bukan masalah harga Parkirnya 1000 bang, tapi jangan dipaksa jika tidak bawa uang, dan Abang pun sebagai tukang parkir harus tau berapa meter tempat kerja Abang.

Jika tempat kulinernya hanya 5 Meter atau 10 Meter, untuk apa Abang kejar lagi, jika para pengendara khususnya para Ojol, meletakkan agak jauh dari tempat parkirnya. Berartikan si Pengendara umum tersebut membawa uang pas-pasan ataupun si Pengendara Ojol tersebut pas lagi baru narik atau pas lagi sepi orderan.

Masalahnya saya juga mantan tukang parkir, saya waktu jadi tukang parkir tidak mengejar orang yang meletakkan kendaraan nya jauh, karena saya paham jika ada konsumen meletakkan Kendaraannya agak jauh dari Tukang Parkir, pasti lagi pas-pasan membawa uang, jadi saya menunggu aja keikhlasan dari si Pengendara itu, kalau memang rezeki pasti si pengendara itu mau kasih, kalau tidak mau kasih apa boleh buat.

Biasanya kalau kita ikhlas bekerja tanpa memaksa, rezeki kita pasti akan banyak. Jadi Alhamdulillah selama saya jadi Tukang Parkir banyak aja orang yang kasih lebih, karena saya tidak memaksa orang mau kasih sama saya atau tidak. Karena Filosofi saya jadi Tukang Parkir pada saat itu ” Di Kasih banyak Alhamdulillah, di kasih Pas Rp 1000 atau Rp 2000 juga Alhamdulillah, jika tidak dikasih juga tidak apa-apa, yang penting si pengendara sudah minta maaf kalau si pengendara itu pas lagi tidak bawa uang, atau pas lagi habis uang karena sudah belanja. Karena diutamakan belanja di dapur dahulu. Karena kita kerja ini bukan mencari uang saja, tapi harus juga memikirkan keberkahannya dalam mencapai rezeki itu.

Jadi pihak Abang Tukang Parkir ya harus mengerti dan harus banyak bersabar, jika ada pengendara yang tidak membayar Parkir, dan sudah minta maaf, jangan lagi dipaksa. Karena pasti ada orang kasih naik mobil mewah 5000 bahkan si pengendara pasti memberikan 10.000, jika kita sebagai Tukang Parkir mengatur dengan baik, jika datang pengendara, langsung kita kejar dan kita kasih tempat yang enak dan nyaman serta kita ramah sama si pengendara.

Sudah pastilah si pengendara itu memberikan Rp 5000 bahkan 10.000. Tapi kalau kita main Prittt bilang ” Parkir Bos” tanpa terlihat wajah, ketika datang pengendara Si Tuparknya gak nampak, jika mau pulang si pengendara sudah terdengar suara “Pritttt” minta ” Parkir Bos” Kalau seperti ini cara kita cari makan, jauh rezekinya Bos Si Tukang Parkir, alias Tukang Parkir (DEWAK)