Revitalisasi Lapangan Merdeka Bagian Dari Realisasi Janji Kampanye, Bobby Nasution Tuai Banyak Dukungan

190

MEDAN ketikberita.com | Dalam melakukan revitalisasi Lapangan Merdeka, Wali Kota Medan Bobby Nasution telah memiliki perencanaan dan persiapan yang kuat. Untuk Lapangan Merdeka, menantu Presiden Joko Widodo itu ingin menjadikannya sebagai ruang terbuka hijau (RTH) dan cagar budaya sekaligus ikon atau landmark Kota Medan. Inti dari revitaslisasi yang dilakukan tersebut, selain merupan bagian dari realisasi janji kampanye, orang nomor satu di Pemko Medan ini juga ingin mengembalikan indentitas Kota Medan.

Bobby Nasution telah mempersiapkan desain untuk revitalisasi Lapangan Merdeka. Desain mencakup keseluruhan wilayah perencanaan dengan disertai perencanaan detail infrastruktur pedestrian, drainase, air limbah dan lainnya, termasuk pemindahan jaringan kabel ke bawah tanah.

Sedangkan penataan dan pembangunan sisi dalam Lapangan Merdeka akan dilakukan Pemko Medan. Guna memuluskan rencana revitalisasi ini, Bobby Nasution telah melaksanakan kunjungan kerja ke Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) sekaligus minta dukungan,Rabu (29/9).

Kedatangan Bobby Nasution langsung diterima Direktur Jendral (Dirjen) Cipta Karya Ir Diana Kusumastuti MT. Setelah menyampaikan program yang akan dilakukan terkait dengan revitalisasi, Dirjen Cipta Karya pun mendukungnya. “Alhamdulillah, Kementrian PUPR mendukung program kita untuk revitalisasi Lapangan Merdeka,” kata Bobby Nasution usai pertemuan beberapa hari lalu.

Diungkapkan Bobby Nasution, akhir Oktober ini, draft desain akan selesai dan langsung ditenderkan pada November. Jika tidak ada kendala, pembangunan fisik sudah dapat dilakukan awal tahun 2022. Guna melancarkan revitalisasi yang dilakukan, Pemko Medan akan diberikan guideline atau pedoman oleh konsultan.

Dikatakan Bobby Nasution, revitalissi Lapangan Merdeka dilakukan merupakan realisasi janji kampanye setelah menginventarisir aspirasi dan permintaan masyarakat. Sebab, sudah lama masyarakat menginginkan agar lapangan yang mulai aktif digunakan sejak tahun 1880 dan pada masa Kolonial Belanda dinamakan de Esplanade agar dikembalikan ke bentuk dan fungsinya semula.

“Apa yang menjadi suara masyarakat tentunya kita dengarkan. Masyarakat minta agar Lapangan Merdeka dikembalikan fungsinya sebagai RTH dan semua yang ada di dalamnya tidak boleh berkurang. Perintah masyarakat kita jalankan, insya Allah revitalisasi Lapangan Merdeka segera kita lakukan. Apalagi Kementerian PUPR sudah mendukungnya,” ungkapnya.

Perencanaan dan persiapan yang kuat dan matang dalam program revitalisasi Lapangan Merdeka yang dilakukan Bobby Nasution ini mendapat respon positif oleh Dosen Departemen Antropologi USU Dr Drs Fikarwin Zuska M Antropolgi Aktif. Hanya Fikarwin menjelaskan, revitalisasi dan cagar budaya adalah hal yang berbeda. Kalau berbicara cagar budaya, jelas Fikarwin, Bobby Nasution harus terlebih dahulu memerintahkan dinas tekait untuk menghimpun informasi sebanyak-banyaknya tentang Lapangan Merdeka dan kemudian menyerahkannya ke tim ahli cagar budaya Kota Medan untuk diteliti dan ditetapkan sebagai cagar budaya.

Sedangkan jika berbicara revitalisasi, sambung Fikarwin, menghidupkan kembali apa yang dulu sudah ada. Dikatakannya, konsep revitalisasi ini yakni mengembalikan kepada fungsi sebelumnya dari Lapangan Merdeka. Apakah mengembalikan fungsinya seperti pada masa zaman Belanda atau pada masa kemerdekaan saat Teks Proklamasi pertama kalinya dibaca di lapangan tersebut

“Jika ingin membangun Lapangan Merdeka menjadi RTH berarti dibangun dan didesign untuk fungsi RTH, seperti ditanami tanaman endemik. Selain menjadi RTH, Lapangan Merdeka juga dapat menjadi ruang konservasi bagi tanaman-tanaman atau tumbuhan endemik di Kota Medan,” jelas Fikarwin.

Sedangkan jika Pemko Medan ingin mengambi konsep revitalisasi, lanjut Fikarwin, maka harus ditentukan kembali ingin mengembalikan pada periode mana, apakah pada masa zaman Belanda, masa kemerdekaan atau sebelum ada bangunan bisnis seperti yang ada saat ini.

Yang pasti, kata Fikarwin, apabila ingin membangun Lapangan Merdeka menjadi RTH tentunya tidak boleh meninggalkan sejarah dari Lapangan Merdeka itu sendiri, serta harus mempertahankan nilai-nilai tersebut agar dapat menjadi bahan pengetahuan.

“Saya berharap dibuat desain baru Lapangan Merdeka dengan mengundang para ahli untuk membicarakan perencanaannya seperti apa. Apakah ingin mengembalikannya seperti pada masa bentukan pemerintah kolonial Belanda atau ketika saat proklamasi dikumandangkan pertama kalinya untuk mendampingi perencanaan kendepannya.

Dukungan atas program revitalisasi Lapangan Merdeka yang akan dilakukan Bobby Nasution juga datang dari Direktur Eksekutif Suluh Muda Indonesia (SMII) Kristian Redison Simarmata sebagai langkah yang sangat bagus dan sangat mendukungnya. Dalam melakukan revitalisasi, Kristian berharap agar Bobby Nasution dapat melibatkan pihak terkait sehingga revitalisasi berjalan dengan lancar seperti diharapkan. Termasuk, mengembalikan nilai-nilai estetika dan sejarah Lapangan Merdeka tersebut.

” Kota Medan sangat sedikit ruang terbuka hijau (RTH). Jadi dalam melakukan revitalisasi, hendaklah lebih banyak RTH-nya sehingga dapat menjadi tempat berkumpul masyarakat, berinteraksi sekaligus tempat hiburan seperti di Kota Tua Lama Jakarta. Kalau bisa Pak Wali Kota duduk bersama dengan banyak pihak, baik itu akademisi maupun lembaga yang concern terhadap lingkungan dan nilai-nilai sejarah,” saran Kristian.

Menurut Kristian, secara gagasan dan ide langkah yang dilakukan Bobby Nasution sudah tepat, tinggal mendetailkan infrastrukturnya, termasuk trotoar sehingga dikelola dengan baik. Jadi, lanjut Kristian, Pemko Medan harus benar-benar membuat masyarakat nyaman untuk berada di lapangan bersejarah tersebut. Di samping itu ia pun menyarankan agar Pemko Medan juga dapat membuat tempat bermain anak-anak dan menggelar pertunjukan kesenian di Lapangan Merdeka.

“Tidak hanya sebagai RTH, ke depan kita harapkan di Lapangan Merdeka juga ada menampilkan pertunjukan kesenian dan budaya dari berbagi etnis yang ada di kota Medan. Yang penting, masyarakat merasa aman dan nyaman menikmatinya, itu kuncinya,” ungkapnya.

Dalam melakukan revitalisasi Lapangan Merdeka, Kristian juga menyarankan untuk memperhatikan drainase dan air limbah. Kristian selanjutnya mendukung penuh pemindahan kabel ke bawah tanah dan dinilai sebagai langkah yang sangat bagus. Selain mengurangi kenyamanan dan estetika, juga mengganggu keamanan. “Pencahayaan jangan lupa diperhatikan saat merevitalisasi Lapangan Merdeka,” pesannya. (er)