Dokter dan Layanan Telekonsultasi Berperan Penting Saat Pandemi, Rey Menghadirkan Fitur Telekonsultasi yang Akurat

95
CEO & Co-Founder Rey Evan Tanotogono

JAKARTA ketikberita.com | Pandemi covid-19 telah membuat banyak perubahan yang baik pada kebiasaan masyarakat. Salah satunya, telah terbiasa menggunakan dan mengoptimalkan perangkat gawai untuk melancarkan aktivitas sehari-hari yang serba terbatas. Salah satunya untuk mendapatkan layanan kesehatan, seperti layanan konsultasi online dengan dokter (telekonsultasi).

Kebutuhan akan telekonsultasi melonjak saat pandemi seiring dengan pemberlakuan PPKM yang masih berlangsung sampai saat ini. Hal ini disebabkan keterbatasan mengakses fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) demi menghindari penyebaran virus covid-19. Padahal, fasyankes merupakan tempat yang sangat penting untuk mendapatkan penanganan medis dan obat untuk kesembuhan terutama saat pandemi.

Prosedur tindakan medis saat pandemi pun menjadi lebih panjang dan tidak seleluasa dulu karena ada beberapa ketentuan. Misalnya, harus tes swab PCR, Rontgen thorax, dan prosedur medis lainnya sebelum dilakukan tindakan medis oleh dokter. Itu sebabnya, kehadiran aplikasi kesehatan untuk beberapa penyakit ringan dirasa sangat membantu.

Dokter, Garda Terdepan Menyehatkan Masyarakat

Dokter dan para tenaga kesehatan telah menjadi garda terdepan dan kunci dalam penanganan covid-19. Namun, upaya para tenaga kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan membantu penyembuhan kerap menghadapi kendala. Diantaranya, penyebaran jumlah tenaga kesehatan yang tidak merata dan infrastruktur fasyankes yang tidak memadai membuat sebagian masyarakat merasa semakin sulit mendapatkan pengobatan. Ditambah lagi masih banyak masyarakat yang tidak patuh pada protokol kesehatan sehingga permasalahan penularan covid tidak kunjung usai.

Tantangan dunia medis terutama saat pandemi diungkapkan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam Siloam Hospitals Kebon Jeruk Jakarta, dr. Jeff (dr Jeffri Aloys Gunawan, Sp.PD) bahwa layanan kesehatan yang berkualitas telah menjadi kebutuhan penting dalam masyarakat tapi kondisi dan jumlah fasyankes tidak sebanding dengan jumlah pasien yang meningkat.

“Terjadi banyak antrian pasien untuk berkonsultasi dengan dokter, melakukan terapi, dan mengambil obat rujukan dokter. Ada saja pasien yang harus mengantri panjang untuk CT Scan hingga berbulan-bulan karena keterbatasan biaya. Bahkan ada yang harus bolak-balik untuk mengambil obat ke rumah sakit karena jangka waktu pemberian resep obat yang diberikan terlalu lama.

Padahal, dengan bolak balik ke rumah sakit dalam situasi pandemi akan menyebabkan kelelahan yang menyebabkan imun turun dan berpotensi terinfeksi covid-19,” sebut dr. Jeff yang aktif membagikan pengetahuan medis dan kesehatan di sosial media.

Persoalan kesehatan yang masih menjadi tugas rumah kita bersama adalah sulit mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas. “Keterbatasan pertanggungan yang diberikan BPJS menjadi persoalan bagi pasien. Ini pun membuat dokter tidak dapat melakukan tindakan medis dengan leluasa. Namun, kondisi ini tidak serta merta membuat kita jadi saling menyalahkan karena anggaran negara memang terbatas ditambah lagi kondisi pandemi yang belum juga usai.

Tetapi, tidak dapat disangkal terjadi penumpukan jumlah pasien yang perlu mendapatkan diagnosa dokter, CT Scan, USG, rontgen. Sebagai dokter, kami harus untuk memberikan pelayanan kesehatan berkualitas terbaik tanpa perlu membebani pasien,“ tambah dr. Jeff.

Menghadapi tantangan tersebut, kita butuh lompatan teknologi dan kemudahan mengakses layanan fasyankes terutama saat pandemi. Sebab, saat kesehatan terganggu perlu segera ditangani oleh dokter. Sayangnya, keterbatasan akses memperlambat proses pengobatan. Ditambah lagi prosedural medis yang panjang berdampak pada meningkatnya biaya pemeriksaan medis. Pada akhirnya memengaruhi finansial masyarakat yang semakin terbatas karena ancaman pandemi.

Salah satu solusi untuk menolong pasien agar dapat segera mendapatkan solusi atas keluhan rasa sakitnya adalah telekonsultasi karena dokter dapat segera memberikan pertolongan bagi pasien dengan gejala ringan sehingga pasien tidak perlu harus mengantri ke fasyankes. Hal ini diakui oleh CEO & Co-Founder Rey Evan Tanotogono, Minggu (24/10/2021) bahwa meningkatnya kebutuhan telekonsultasi adalah cikal bakal hadirnya Rey (rey.id), startup health insurtech berbasis aplikasi yang menyediakan layanan kesehatan.

Kata Evan, keterbatasan mengakses fasyankes telah dicarikan solusinya dengan menghadirkan layanan telekonsultasi oleh berbagai aplikasi kesehatan. Telah banyak masyarakat yang memanfaatkannya untuk berinteraksi dengan dokter saat pandemi. Kehadiran fitur telekonsultasi telah mempermudah pasien mengakses layanan kesehatan dan tidak lagi khawatir akan risiko penularan covid-19.

Peranan Dokter Dalam Aplikasi Layanan Kesehatan

Rey hadir untuk membantu masyarakat agar dapat bisa menjangkau layanan kesehatan yang berkualitas. “Kami menawarkan asuransi jiwa dan kesehatan dalam program Membership berbasis langganan (subscription). Para Member dapat menikmati ekosistem layanan kesehatan dalam bentuk digital. Misalnya, melakukan pemeriksaan gejala mandiri, telekonsultasi dengan dokter, dan mendapatkan obat sesuai resep dokter. Obat tersebut bahkan akan diantar sampai ke rumah.

Semua diberikan gratis karena biaya ditanggung oleh Rey sesuai paket manfaat yang telah dipilih oleh pengguna (Member Rey). Preminya dirancang terjangkau dan lebih murah dari berlangganan film atau musik online karena Member hanya mengeluarkan dana sebesar Rp69 ribu/bulan,” sebut Evan. (r/red)