Home / Ketik Berita / Ekonomi & Bisnis / Tertinggi Di Sumatera Utara, Juni 2026 Inflasi Gunungsitoli Capai 6,25 Persen

Tertinggi Di Sumatera Utara, Juni 2026 Inflasi Gunungsitoli Capai 6,25 Persen

MEDAN ketikberita.com | Kota Gunungsitoli menjadi wilayah dengan tingkat inflasi tertinggi di provinsi Sumatera Utara yang menyentuh angka 6,25 persen dan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 115,71. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara Asim Saputra mengatakan pada rilis berita resmi statistik di kantornya, Jalan Asrama Medan Rabu (1/7/2026).

BPS) Provinsi Sumatera Utara mencatat adanya lonjakan inflasi tahunan atau year-on-year sebesar 4,79 persen pada Juni 2026 dengan Indeks Harga Konsumen mencapai 113,26.

Sementara itu, tingkat inflasi tahunan terendah berada di Kabupaten Karo yang tercatat sebesar 4,46 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 112,84.

Asim mengatakan pada Juni terjadi inflasi y-on-y sebesar 4,79 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 108,08 pada Juni 2025 menjadi 113,26 pada Juni 2026.

“Pergerakan harga berbagai komoditas pada Juni 2026 secara umum memang menunjukkan tren peningkatan,” jelas Asim.

Untuk tingkat inflasi dari bulan ke bulan atau month-to-month Provinsi Sumatera Utara pada Juni 2026 berada di angka 0,23 persen, sedangkan tingkat inflasi tahun kalender atau year-to-date mencapai 0,90 persen.

Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 11 indeks kelompok pengeluaran.

Kenaikan harga terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran yang meliputi kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 7,57 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 2,36 persen; serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,75 persen.

Selanjutnya, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik 1,35 persen; kelompok kesehatan naik 2,56 persen; kelompok transportasi naik 4,75 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan naik 3,45 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik 1,57 persen; kelompok pendidikan naik 3,45 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 3,59 persen; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik 9,55 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi y-on-y pada Juni 2026, antara lain: emas perhiasan sebesar 0,53 persen; cabai merah sebesar 0,41 persen; bensin sebesar 0,18 persen; beras dan cabai rawit masing-masing sebesar 0,17 persen.

Selain itu, komoditas lain yang ikut menyumbang inflasi tahunan adalah ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, tomat, dan minyak goreng masing-masing sebesar 0,16 persen. Kemudian angkutan udara, ikan dencis, dan ikan kembung atau ikan gembung atau ikan banyar atau ikan gembolo atau ikan aso-aso memberikan andil masing-masing sebesar 0,14 persen, disusul akademi atau perguruan tinggi sebesar 0,11 persen, serta daging ayam ras sebesar 0,10 persen.

Telepon seluler juga menyumbang 0,09 persen; sedangkan udang basah, telur ayam ras, dan bawang merah masing-masing berkontribusi sebesar 0,08 persen; Sigaret Kretek Mesin sebesar 0,07 persen; serta jeruk dan laptop atau notebook masing-masing sebesar 0,06 persen.

“Sedangkan komoditas yang memberikan andil atau sumbangan deflasi y-on-y, antara lain: detergen cair, popok bayi sekali pakai atau diapers, daging babi, dan ketimun masing-masing sebesar 0,02 persen,” ujarnya.

Ada pula beberapa komoditas lain yang menahan laju inflasi tahunan melalui sumbangan deflasi sebesar 0,01 persen, yaitu kangkung, kentang, kemeja panjang katun pria, kacang panjang, dan sabun cair atau cuci piring. Di sisi lain, BPS juga merinci beberapa faktor utama yang memicu inflasi bulanan di wilayah Sumatera Utara.

“Sementara Komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi m-to-m pada Juni 2026, antara lain: bensin sebesar 0,14 persen; bawang putih dan angkutan udara masing-masing sebesar 0,08 persen; cabai merah dan cabai rawit masing-masing sebesar 0,05 persen,” tambahnya.

Komoditas lain yang mendorong inflasi bulanan mencakup biaya les atau privat, beras, dan wortel masing-masing sebesar 0,03 persen, serta kentang sebesar 0,02 persen. Kontribusi sebesar 0,01 persen juga datang dari ikan kembung atau ikan gembung atau ikan banyar atau ikan gembolo atau ikan aso-aso, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, telepon seluler, minyak goreng, kue kering berminyak, pasta gigi, bayam, pelumas atau oli mesin, parfum, shampo, dan tahu mentah.

“Sedangkan komoditas yang memberikan andil atau sumbangan deflasi m-to-m, antara lain: tomat sebesar 0,17 persen; daging ayam ras sebesar 0,07 persen; sawi hijau dan brokoli masing-masing sebesar 0,03 persen,” katanya.

Penurunan harga secara bulanan juga dialami oleh bawang merah, ikan dencis, kacang panjang, dan ketimun yang masing-masing menyumbang deflasi m-to-m sebesar 0,02 persen. Komoditas lain seperti terong, kembang kol, udang basah, telur ayam ras, emas perhiasan, kangkung, popok bayi sekali pakai atau diapers, buah naga, dan labu siam atau jipang turut andil menekan inflasi bulanan masing-masing sebesar 0,01 persen.

“Pada Juni 2026, sebelas kelompok pengeluaran memberikan andil inflasi y-on-y,” pungkasnya.

Secara rinci, andil inflasi tahunan dari kesebelas kelompok tersebut dipimpin oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 2,70 persen.

Diikuti oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,60 persen; kelompok transportasi sebesar 0,46 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,30 persen; kelompok pendidikan sebesar 0,18 persen; serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,16 persen.

Terakhir, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menyumbang 0,12 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,11 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,07 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,06 persen; dan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,03 persen. (r/red)