BATAM (Kep.Riau) ketikberita.com | Kinerja perbankan di Sumatera Utara (Sumut) menunjukkan masih tren positif dengan pertumbuhan aset, dana pihak ketiga (DPK), serta kredit yang tetap terjaga. OJK mencatat total aset bank umum tumbuh 4,22 persen secara tahunan, sementara DPK meningkat 4,31 persen. Kondisi ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan masih kuat.
Hal tersebut kembali ditegasan Kepala OJK Sumut, Khoirul Muttaqien didampingi Direktur Pengawasan PUJK, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK Sumut, Yusri, serta Deputi Direktur Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sumut, Yovvi Sukandar pada agenda Media Gathering OJK di Swiss-Belhotel Internasional Batam, Kamis (30/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa kondisi ekonomi global hingga domestik saat ini masih diwarnai ketidakpastian, mulai dari tensi geopolitik internasional hingga potensi perubahan iklim seperti kemarau panjang yang diperkirakan berdampak pada aktivitas ekonomi daerah, termasuk di Sumatera Utara.
“Secara umum, pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara pada 2025 mengalami perlambatan dibandingkan 2024. Hal ini dipengaruhi oleh faktor pendorong yang berbeda, di mana pada 2024 terdapat momentum besar seperti penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON). Sementara pada 2025, sejumlah tantangan seperti bencana alam dan perubahan cuaca turut mempengaruhi aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Disebutkanya, penyaluran kredit turut mengalami peningkatan meskipun dengan laju yang sedikit melambat. Kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 17,31 persen, yang menjadi indikator meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi ke depan. Sementara kredit konsumsi tumbuh 6,32 persen dan kredit modal kerja mengalami sedikit penurunan.
Untuk sektor keuangan non-bank, kinerja juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. BPR dan BPRS mencatat pertumbuhan aset, DPK, dan kredit di atas 9 persen, meskipun rasio kredit bermasalah (NPL) masih berada di kisaran 8–10 persen.
Sementara itu, perusahaan pembiayaan mencatat total piutang sebesar Rp24 triliun atau tumbuh 2,73 persen. Fintech peer-to-peer lending juga menunjukkan pertumbuhan pesat dengan outstanding pinjaman mencapai Rp3,8 triliun atau naik 27,5 persen, dengan tingkat wanprestasi relatif rendah di angka 1,99 persen. Namun demikian, maraknya fintech ilegal tetap menjadi perhatian serius.
Selain itu, OJK juga terus mendorong literasi dan inklusi keuangan melalui berbagai program edukasi. Hingga Maret 2026, kegiatan edukasi keuangan telah menjangkau lebih dari 5.800 peserta dari berbagai kalangan, termasuk ASN, pelajar, serta aparat TNI/Polri.
Ke depan, OJK berharap seluruh pemangku kepentingan, termasuk media, dapat terus bersinergi dalam menjaga stabilitas sektor jasa keuangan sekaligus meningkatkan literasi masyarakat di tengah tantangan ekonomi yang terus berkembang.
Peran aktif insan pers yang selama ini turut mendukung penyebaran informasi sektor jasa keuangan kepada masyarakat, Muttaqien mengucapkan terimaksih dan mengapresiasi peran aktif tersebut. (red)








