Pemko Tebing Tinggi Serius Tekan Penurunan Angka Stunting Tahun 2023, Peran Serta Masyarakat Sangat Dibutuhkan

212

Stunting merupakan suatu penyakit serius yang dapat terjadi pada anak-anak dan butuh penanganan serius pula, baik oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota di Indonesia. Ini dikarenakan stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia dalam hal kemampuan dan daya saing bangsa Indonesia.

Terlebih dalam mewujudkan generasi emas di tahun 2045, salah satu tantangan terberat pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas untuk mewujudkan generasi emas itu adalah stunting. Untuk itu pencegahan dan penurunan pravelensi angka stunting sangat perlu dilakukan saat ini demi terwujudnya generasi emas dengan masyarakat yang berkualitas.

*Angka Stunting di Indonesia

Perlu kita ketahui bersama, bahwa stunting telah menjadi isu Nasional sehingga pemerintah terus berupaya melakukan pencegahan agar angka prevalensi stunting dapat turun sesuai target yang diharapkan.

Pada tahun 2022, angka stunting di Indonesia mengalami penurunan yang sangat signifikan. dimana sebelumnya di tahun 2021, stunting berada diangka 24% dan di tahun 2022 menurun hingga 21%. Ini berkat kerja keras pemerintah pusat dan kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menurunkan stunting.

Capaian ini juga belum berarti capaian maksimal, sehingga Presiden Republik Indonesia (RI) Bapak Joko Widodo mengatakan dalam sebuah forum, bahwa stunting bukan hanya urusan tinggi badan anak-anak saja, namun yang paling berbahaya itu ialah rendahnya kemampuan anak-anak untuk belajar, keterbelakangan mental, dan yang munculnya penyakit-penyakit kronis.

Oleh karena itu Presiden Joko Widodo mengatakan target penurunan stunting ini bisa tercapai hingga 14% di tahun 2024. Beliau sangat yakin dengan kekuatan kita bersama semuanya bisa bergerak. ”Angka itu bukanlah angka yang sulit untuk dicapai asal semuanya bekerja bersama-sama”, katanya.

*Angka Stunting di Tebing Tinggi

Pemerintah kota (Pemko) Tebingtinggi sendiri, saat ini tengah melakukan gerak cepat untuk menurunkan angka stunting di tahun 2023 dengan target utama capaian penurunan diangka 14%. Hal ini senada dengan harapan Presiden yang menginginkan secara utuh di tahun 2024 stunting di Indonesia bisa turun mencapai 14%.

Gerak cepat ini dilakukan Pemko Tebingtinggi lantaran angka stunting mengalami kenaikan di tahun 2022 menjadi 19%. Sebelumnya pada tahun 2021 stunting di Tebingtinggi berada diangka 17% dan merupakan urutan ketiga persentase terendah di Provinsi Sumatera Utara.

Dikarenakan stunting di kota Tebingtinggi mengalami kenaikan di tahun 2022, membuat Pemko Tebingtinggi optimis dan lebih serius berpacu dalam penangan stunting di tahun 2023 ini.

Sikap tegas dan keseriusan itu langsung diutarakan Penjabat (Pj) Walikota Tebingtinggi Muhammad Dimiyathi, S.Sos. M.TP secara terbuka terhadap permasalahan stunting. Ini dinyatakan dihadapan forum oleh Pj. Walikota pada saat menghadiri acara Pencanangan Momentum Bhakti Sosial Ikatan Bidan Indonesia (IBI) – KB – Kesehatan tahun 2023 yang digelar di Puskesmas Teluk Karang, Kecamatan Bajenis, Kota Tebingtinggi, tepatnya pada bulan Maret 2023 lalu.

Pada kesempatan itu, sebagai orang nomor satu di Tebingtinggi, ia menyampaikan dan berpesan kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hendaknya berkolaborasi dan ikut melibatkan stakeholder dalam percepatan penurunan angka stunting di kota Tebingtinggi. Mengapa demikian, karena stunting merupakan tanggungjawab kita bersama dalam hal menyelamatkan anak generasi bangsa.

*Fokus Pemintah Terhadap Stunting

Melirik dari sikap tegas Pj. Walikota Tebingtinggi itu, hendaknya segala pihak yang terkait di bidang kesehatan baik dari tingkat tertinggi hingga ke level bawah lebih fokus lagi dalam hal pencegahan stunting. Sebab menurut berbagai sumber yang menyebutkan bahwa stunting yang terjadi pada anak-anak itu tidak bisa disembuhkan, namun dapat dicegah.

Dalam hal melakukan pencegahan stunting di kota Tebingtinggi yang dilakukan pemerintah sebenarnya sudah berjalan dengan baik, namun masih tetap perlu melakukan peningkatan dan penguatan karena stunting ini tidak bisa dilakukan oleh Dinas PPKB atau Dinas Kesehatan saja tetapi hendaknya melibatkan OPD lainya yang berkaitan dengan program penanganan dan pencegahan stunting itu sendiri.

Untuk memberhasilkan program ini perlunya keterlibatan semua OPD, karena memang penyebab stunting itu multi kompleks, jika melihat semangat dan kerja OPD kami yakin Tebing Tinggi akan berhasil, katanya

Penguatan – penguatan terhadap tim kesehatan dalam penanganan dan pencegahan stunting hendaknya dilakukan secara matang agar semua bisa semaksimal mungkin melakukan pengawasan terhadap masyarakat yang dalam pantauan maupun remaja wanita yang menikah di usia muda yang nakal menjadi calon Ibu baru.

Tidak itu saja, kampanye maupun himbauan – himbauan yang telah dilakukan pemerintah dalam melakukan pencagahan stunting hendaknya terus dilakukan dan perlu ditingkatkan agar masyarakat dapat teredukasi, sehingga lebih mengetahui dan memahami apa sebenarnya stunting dan bagaimana cara melakukan pencegahannya.

Mengapa hal ini perlu dilakukan, karena stunting pada anak sering kali terjadi sejak masih dalam kandungan, terlebih kemungkinan stunting itu bisa terjadi dikarenakan faktor pernikahan dini, atau pernikahan di usia muda. Oleh karena itu perlunya penguatan dan kampaye dari pemerintah secara mendalam tentang stunting agar kemungkinan anak terkena stunting dapat dicegah bersama sama.

Berbagai sumber menyebutkan, salah satunya BKKBN Provinsi Sumatera Utara
yang disampaikan Rohana Berutu bahwa dinyatakan dari hasil studi gizi Indonesia di tahun 2021, adanya kemungkinan terburuk dari stunting yaitu dari 4 (empat) orang anak, satu diantaranya bisa terkena stunting. Untuk itu perlu penanganan serius sejak dini agar anak-anak generasi bangsa Indonesia khususnya di kota Tebingtinggi dapat terselamatkan dari bahaya stunting.

Oleh karenanya perlu kesadaran bersama, stunting ini bukan hanya menjadi urusan pemerintah saja, akan tetapi telah menjadi urusan kita bersama sebagai masyarakat maupun orang tua demi menyelamatkan generasi bangsa untuk menyongsong generasi emas di masa mendatang.

Untuk itu, penulis merasa perlu sedikit menambahkan penjelasan perihal stunting agar masyarakat Indonesia khususnya di kota Tebingtinggi dapat mengetahui apa saja faktor penyebabnya dan bagaimana cara melakukan pencegahan agar anak – anak generasi bangsa dapat terselamatkan dari stunting.

*

Stunting dan Faktor Penyebabnya

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO (World Health Organization), Stunting atau stunted dapat menyerang anak tanpa pandang bulu. Ini merupakan gangguan tumbuh kembang pada anak – anak yang faktor penyebabnya dari kekurangan asupan gizi maupun stimulasi dalam waktu yang cukup lama.

Anak yang mengalami gangguan stunting akan lebih mudah terserang infeksi yang dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisiknya, seperti tinggi badan lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar anak-anak pada umumnya.

Masyarakat banyak yang memahami bahwa kondisi tubuh anak yang pendek sering dikaitkan dengan faktor keturunan atau genetik atau bawaan dari kedua orang tuanya. Sehingga tidak sedikit yang menerima kalau kondisi tubuh pendek pada anak itu merupakan faktor keturunan yang di dapat dari kedua orang tuanya tanpa mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dan bagimana cara mengatasi atau melakukan pencegahannya.

*Cara Pencegahan Stunting

Meski banyak sumber yang mengatakan bahwa stunting tidak bisa disembuhkan, namun bisa dicegah. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pencegahan stunting menurut mantan Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. Nila Moeloek yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih.

1. Pola Makan
Masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, serta seringkali tidak beragam dan seimbang.

Perlunya gizi seimbang diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, terkhusus bagi anak – anak dalam masa pertumbuhan, memperbanyak sumber protein sangat dianjurkan, disamping tetap membiasakan mengonsumsi buah dan sayur.

Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.

2. Pola Asuh
Stunting juga dipengaruhi dari aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan balita.

Mulailah dari edukasi tentang kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.

Lakukan persalinan di fasilitas kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan dan setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI.

Jangan lupa pantau tumbuh kembang anak dengan membawanya ke Posyandu setiap bulan serta ikuti tahapan imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah. Imunisasi dilakukan untuk mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya, bisa dilakukan di Posyandu atau Puskesmas.

3. Sanitasi dan Akses Air Bersih
Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk salah satunya yakni akses sanitasi dan air bersih. Melakukan perbaikan terhadap sanitasi yang tidak standar dan akses air bersih bisa menjauhkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.

Dari ketiga cara pencegahan stunting ini jika dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka kecil kemungkinan anak terkena stunting. Karena itu, sembari pemerintah berupaya melakukan pencegahan stunting, kita juga sebagai masyarakat harus memberi dukungan dan bersama sama ikut serta melakukan pencegahan.

Mulailah untuk melakukan pola hidup sehat, jaga keluarga dari ancaman penyakit, terutama pada anak-anak yang rentan terkena stunting dengan mengikuti dan mematuhi semua himbauan – himbauan yang telah di kampanyekan pemerintah melalui tim kesehatan agar tahun 2023 ini angka stunting di kota Tebingtinggi dapat menurun seperti harapan pemerintah maupun harapan kita semua. (Reta P. Hasibuan)

Artikulli paraprakAnggota DPRD Medan Minta Orangtua Tanamkan Nilai Agama Kepada Anaknya Sejak Usia Dini
Artikulli tjetërRDP Akses Keluar Masuk Keluarga Saur Simatupang Belum Bisa Simpulkan