ACEH SINGKIL (Aceh) ketikberita.com | Melimpahnya produksi kelapa tua di Kepulauan Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, tidak sepenuhnya menjadi kabar baik bagi petani. Pasokan yang tinggi justru berbanding terbalik dengan kondisi pasar setelah salah satu jalur distribusi keluar daerah terhenti.
Akibatnya, kelapa yang sebelumnya dipasarkan hingga ke luar Aceh kini lebih banyak terserap pasar lokal. Kondisi tersebut membuat pasokan menumpuk dan harga di tingkat pedagang mengalami tekanan.
Pantauan di pasar harian Kecamatan Singkil, Sabtu (15/8/2026), menunjukkan kelapa tua dari Pulau Banyak memenuhi sejumlah lapak pedagang. Sebagian komoditas tersebut ditata di sepanjang lapak kayu di sisi kawasan pasar, sementara sebagian lainnya dijual di dalam area pasar.
Salah seorang pedagang, Maneli, mengatakan kelapa yang dijualnya sebagian besar berasal dari Pulau Banyak. Produksi di kawasan kepulauan itu saat ini cukup tinggi sehingga pengiriman ke Kota Singkil dilakukan secara rutin menggunakan kapal.
“Setiap minggu dibawa kapal ke Kota Singkil untuk dipasarkan,” ujar Maneli.
Namun, tingginya pasokan tidak diikuti dengan terbukanya pasar yang lebih luas. Harga kelapa tua saat ini berkisar Rp5.000 hingga Rp12.000 per butir, bergantung pada ukuran dan layanan yang diberikan pedagang. Dalam kondisi tertentu, harganya bahkan bisa turun hingga sekitar Rp3.000 per butir.
Pedagang menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan terhentinya salah satu jalur pemasaran kelapa dari Pulau Banyak. Sebelumnya, komoditas tersebut tidak hanya dipasarkan di Aceh Singkil, tetapi juga dikirim ke Medan, Sumatera Utara, untuk memenuhi pasar yang lebih luas hingga kebutuhan ekspor.
Dalam beberapa bulan terakhir, aktivitas salah satu agen penampung disebut berhenti. Pedagang mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebabnya. Mereka hanya mengetahui tempat yang selama ini menjadi tujuan pengumpulan kelapa tidak lagi beroperasi.
“Tidak tahu kenapa tutup. Daripada kelapa menumpuk di kebun, akhirnya dijual ke pasar lokal,” kata seorang pedagang.
Perubahan jalur distribusi tersebut membuat rantai pemasaran kelapa Pulau Banyak ikut berubah. Produksi tetap berjalan, tetapi akses menuju pasar luar daerah menyempit. Akibatnya, volume kelapa yang masuk ke pasar lokal meningkat dan harga pun tertekan.
Padahal, kelapa tua dari Pulau Banyak memiliki karakteristik tersendiri. Meski ukuran buahnya relatif kecil, sekitar sebesar kepalan tangan, daging buahnya dikenal cukup tebal dan mampu menghasilkan santan dalam jumlah banyak.
Harga Kelapa Turun, Ikan Laut Justru Naik
Di tengah anjloknya harga kelapa, kondisi berbeda terjadi pada komoditas pangan lainnya. Harga ikan laut di sejumlah pasar Aceh Singkil justru mengalami kenaikan dan pasokannya cenderung tidak stabil.
Seorang warga, Ayen, mengatakan harga ikan bahkan sudah tinggi sejak berada di tingkat pangkalan nelayan sebelum dibawa ke pasar. Ia menduga meningkatnya kebutuhan ikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memengaruhi persaingan mendapatkan pasokan.
“Harga ikan laut melonjak dan belum stabil karena permintaan untuk kebutuhan MBG meningkat,” ujarnya.
Menurut Ayen, sebagian penyedia kebutuhan MBG diduga membeli ikan langsung dari pangkalan nelayan. Pola pembelian tersebut dinilai dapat membuat pedagang atau agen yang memasok kebutuhan masyarakat umum harus bersaing mendapatkan ikan dari sumber yang sama.
Persaingan mendapatkan pasokan semakin terasa ketika hasil tangkapan nelayan sedang terbatas. Kondisi itu berpotensi mendorong harga ikan lebih tinggi di tingkat konsumen.
Situasi tersebut menggambarkan persoalan berbeda yang dihadapi dua komoditas penting masyarakat pesisir Aceh Singkil. Kelapa menghadapi kelebihan pasokan karena pasar menyempit, sementara ikan laut menghadapi tekanan harga akibat pasokan yang terbatas dan permintaan yang meningkat.
Kondisi ini sekaligus menunjukkan pentingnya keberlanjutan jalur distribusi bagi komoditas lokal. Produksi yang melimpah belum tentu meningkatkan kesejahteraan petani apabila tidak diimbangi dengan akses pasar dan rantai pemasaran yang mampu menyerap hasil panen secara berkelanjutan. (R84)






