Pasca Pandemi, Bank Indonesia Berupaya Pulihkan UMKM

382

MEDAN ketikberita.com | Tantangan Bank Indonesia (BI) untuk pemenuhan keuangan inklusif dimana targetnya tahun 2024 di Indonesia mencapai 90 persen, saat ini masih 70 persen.

Hal itu dikatakan Deputi Direktur Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara Poltak Sitanggang pada diskusi “Memulihkan Bisnis UMKM pasca pandemi” yang diselenggarakan BI Sumut kerjasama dengan Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama) Sumut di Hotel Santika Dyandra Medan Jumat (8/4/2022) sore. Selain Poltak, pembicara lainnya CEO Go-Klik Fiter Bagus Cahyono. Hadir di sana Direktur BI Sumut Azka Subhan dan Ketua Kagama Bantuan Hukum Sumut Romulo Silaen.

Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, terus mendorong terciptanya keuangan inklusif khususnya bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pasca pandemi,” kata Poltak.

Ia menyebut keuangan inklusif terkait dengan bagimana memperluas akses keuangan yang berkualitas dan sustainable (berkesinambungan).

Menurutnya, akses keuangan inklusif masih terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera. Jadi pengembangan keuangan inklusif perlu disebarkan ke seluruh daerah. Peluncuran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) adalah salah satu upaya peningkatan keuangan inklusif, khususnya kepada UMKM.

Artinya, pelaku UMKM seperti penjual gorengan melaksanakan transaksi dengan menggunakan QRIS. Merchant dan konsumen yang memakai QRIS sudah tentu memanfaatkan perbankan.

“Jadi kalau masyarakat sudah memakai QRIS berarti inklusi keuangan sudah berjalan bagus,” ungkap Poltak.

Sedangkan target penggunaan QRIS tahun ini sebanyak 15 juta merchant. Tahun lalu terealisasi target 12 juta merchant QRIS.

Masyarakat yang ingin bertransaksi dengan QRIS memiliki dana digital seperti OVO, GoPay, LinkAja yang termasuk dalam Perusahaan Jasa Sistem Pembayaran (PJSP). “Semua ini diawasi oleh Bank Indonesia,” tegas Poltak.

CEO Go-Klik Fiter Bagus Cahyono mengatakan era digitalisasi sekarang harus dimanfaatkan oleh UMKM untuk menerobos pasar yang sangat merekah, kuat dan besar tersebut.

Fiter menyebut tahun 2021 transaksi e-commerce di Indonesia mencapai Rp403 triliun, pertumbuhannya sangat signifikan dibanding tahun lalu. Sampai tahun 2024, pertumbuhannya masih double digit. Potensi e-commerce juga dan tak ada masalah dengan kemampuan pembeli. Bahkan 27 persen UMKM di Indonesia menikmati gurih dan geliatnya pasar digital. “Market ekonomi digital sangat menarik,” tegas Fiter.

Cuma ia menyayangkan produk yang dijual melalui e-commerce itu, 90 persen masih produk impor. Untuk itu ia minta UMKM tidak boleh tergantung penjualannya melalui e-commerce. “Tapi jual sendiri melalui online melalui WA, FB maupun media sosial lainnya,” kata Fiter.

Untuk jualan online harus ada riset, turun ke pelanggan, dimana pelanggan itu kebanyakan berada apakah di FB atau media sosial lainnya. Ketahui dulu customernya seperti apa. Sebab UMKM tidak berhasil biasanya karena konsumen tidak membutuhkan barang tersebut atau iklan digitalnya tak sampai ke mereka.

Inti teknologi ada di user atau penggunanya,” terang Fiter. Ia menyebut UMKM Indonesia adalah target utama Go-Klik. Platform Go-Klik untuk membantu melakukan penjualan langsung. (er)