Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang Mengenal Kalam Allah

22

TEBING TINGGI (Sumut) ketikberita.com |  Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi Rabiatul Adawiyah untuk mengenal dan mengeja kalam Allah. Melalui metode hafalan, wanita asal Mandailing Natal tersebut mulai belajar membaca Alquran di usia 20 tahun.

Bukan main, kini di usianya yang menginjak ke-27 tahun, ia telah hafal 20 juz Quran dan ikut unjuk kebolehan pada Cabang Seni Baca Quran, Golongan Tilawah Cacat Netra (Canet), MTQ ke-37 Sumut di Tebing Tinggi.

Bertanding di Gedung Balai Kartini Lama, Jalan Imam Bonjol Tebing Tinggi, Selasa (8/9), Rabiatul didamping pelatihnya yang akrab ia panggil dengan sebutan Ummi. Ummi menjadi tumpuan yang memandunya saat berjalan, sekaligus penyemangat Rabiatul selama bertanding.

Dijelaskan Ummi, yang memiliki nama lengkap Samriyah Rangkuti, metode belajar yang ia terapkan untuk Rabiatul adalah dengan memperdengarkan murattal, kemudian dihafalkan dan perlahan-lahan mulai memakai irama.

“Bacaan Quran saya rekam, dia hafal, kemudian kita koreksi dan perbaiki hafalannya. Huruf demi huruf kita koreksi pelafazannya, tajwid dan iramanya,” jelas Samriyah. Sejauh ini, Rabiatul telah meraih juara Harapan III di MTQ Tingkat Provinsi di Binjai 2014 dan Harapan II di MTQ Tingkat Provinsi di Dairi.

Terpaut umur yang jauh dengan Rabiatul, Roslaini berusia 46 tahun asal Dairi juga tak kalah semangat bersaing di MTQ. Dengan motivasi menjadi qariah terbaik dan cinta membaca Quran, jadi alasan utama Roslaini untuk tetap aktif mengikuti perlombaan di usianya yang terbilang memasuki masa tua.

“Saya memang sejak usia sekolah sudah suka ikut lomba begini. Metode belajar saya meraba lewat Quran braille dan juga metode hafalan. Kalau tidak ada kegiatan, sehari-harinya saya isi dengan baca Quran. Saya ingin dapat berkompetisi di tingkat nasional, sebelumnya masih provinsi,” cerita Roslaini yang juga datang bersama suaminya peserta lomba.

Sebelumnya, Ketua Dewan Hakim Golongan Tilawah Canet Gamal Abdul Nasir Lubis menjelaskan bahwa penampilan Golongan Canet memiliki kekhususan dengan menggunakan isyarat bel. Isyarat lampu yang biasa digunakan dalam perlombaan MTQ diganti dengan bunyi bel pertama memulai bacaan, bel kedua bersiap mengakhiri bacaan, dan bel ketiga mengakhiri bacaan.

“Karena sistem penampilan mereka hafalan, jadi dominan para peserta Canet ini berfokus pada lagu. Ada dua pilihan untuk tampil, rata-rata yang tampil hari ini lebih banyak memilih hafalan, dibandingkan meraba Quran braille,” terang Gamal.

Untuk kualitas bacaan, Gamal menyebut golongan Canet juga tidak kalah hebat. “Kita patut apresiasi, semangat mereka tidak surut dengan keterbatasan yang dimiliki. Ini menjadi momen refleksi bagi kita, malu kalau kita dengan penglihatan yang sehat tapi tidak mau baca Quran,” katanya mengingatkan.

Adapun peserta Golongan Tilawah Canet MTQ ke-37 Sumut di Tebing Tinggi berlangsung selama satu hari, Selasa (8/9), dimulai dari pukul 13.30-17.30 WIB. Jumlah peserta sebanyak 15 orang, terdiri dari 7 orang putra dan 8 orang putri. (er)