Dewa Jarlub : Jurnalis itu Membawa Berkah Bukan Membawa Malapetaka Bangsa Indonesia

0
178
Foto : Jurnalis yang sudah mulai menulis sejak tahun 2001 Medan-Palas Said M Kamal Alias Dewa Jarlub

PALAS (Sumut) ketikberita.com | Perlu kita ketahui Profesi kita sebagai seorang Jurnalis. Tidaklah gampang kita menjadi Seorang Jurnalis Profesional kalau kita tidak mempunyai dasar ilmu Pengetahuan tentang ilmu Jurnalistik.

Karena di dalam Ilmu Jurnalistik ada satu Aturan Main yang masuk kedalam Ikatan Batin antara Manusia ke Manusia yaitu “Kode Etik” Karena yang namanya Wartawan atau jurnalis atau pewarta adalah seseorang yang melakukan kegiatan jurnalistik atau orang yang secara teratur menuliskan berita (berupa laporan) dan tulisannya dikirimkan/dimuat di media massa secara teratur. Laporan ini lalu dapat dipublikasi dalam media massa, seperti koran, televisi, radio, majalah, film dokumentasi, dan internet.

Wartawan mencari sumber mereka untuk ditulis dalam laporannya; dan mereka diharapkan untuk menulis laporan yang paling objektif dan tidak memiliki pandangan dari sudut tertentu untuk melayani masyarakat. Jadi inti dari seorang jurnalis tersebut adalah “Jurnalis Itu Membawa Berkah,Bukan Jurnalis itu Membawa Malapetaka”.

Kenapa Jurnalis itu harus Membawa Berkah, karena seorang yang sering menghasilkan Karyanya yaitu Jurnalis, harus siap tidak di bayar dan harus siap Tampil Prima. Ataupun sebaliknya janganlah menjadi seorang Jurnalis itu terlalu gampang dan terlalu merendahkan Profesi yang kita emban, dan hanya tau Ngemop sekaligus Memaksa dan Memeras dalam Perasaan Orang Lain, karena seorang Jurnalis bukan Uang segalanya dan bukan Projeck membuat dirinya Kaya.

Karena kelebihan uang pun dan kelebihan Projeck yang di dapat, akan besar Efeknya yaitu kena Penyakit Sesak Nafas dan Sakit Jantung. Hal tersebut diungkapkan Jurnalis Senior dan Profesional Palas-Medan Said M Kamal alias Dewa Jarlub

Lanjut Dewa bahwa Profesi seorang Jurnalis itu sangatlah Mulia, kenapa Mulia…? Dari Posisi seorang Jurnalis aja “Di Bawah Malaikat tapi Diatas Presiden”. Makanya banyak Pemimpin Kelas Dunia seperti Barack Obama dan Jokowi, Mantan Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin dan Mantan Walikota Medan Abdillah yang selalu Menghargai, Menyayangi dan Mencintai para Jurnalis tersebut.

Bagaimana dengan Pemimpin kita di Kabupaten Padang Lawas. Karena seorang Jurnalis itu Siap Tampil Prima tanpa diberi Uang dalam Tas dan Kami Bekerja untuk Narasumber Profesionalitas yang Ujung Penanya Tanpa Batas.

Bahkan Jurnalis yang sesungguhnya tidak pernah Cengen dan Cemen jika tidak di berikan Uang, Jurnalis sesungguhnya harus mempunyai Mental Baja. Karena tugas Jurnalis hanya Cukup memberitakan dan mengiformasikannya, bukan Masuk ke Dalam Sistem dan bukan Masuk ke dalam Kesombongan.

Dan Seorang Jurnalis itu hanya bisa bermain diatas tatanan Non Verbal, bukan bermain diatas tatanan Verbalnisasi, jurnalis hanya bisa melakukan Sindirisasi dan Kritisasi, bukan Vonisasi atau menuduh (Cucuk Hidung Orang Red-) sehingga Terjadi Perselisahan antar Profesi baik secara Horizonta, Vertikal maupun Diagonal.

Tapi kami para Jurnalis bermohon kepada Pemerintah, Swasta dan para StakeHolder untuk bermain Secara Spotivitas Tinggi, ketika kita sudah memberitakan ke Narasumber, maka Narasumber harus ada Kode Etik yang Termaktub Batiniah kedalam SOPP ( STANDART OPERASIONAL PEWARTA PROFESIONAL ) yaitu pemberian Apresiasi ketika Berita sudah di terbitkan senilai Rp 200.000 dan di tanda tangani.

Supaya terjadi yang namanya ” Simbiosys Mutualis” antara Pihak Pemerintah dengan Para Jurnalis dan Pihak Diagonal seperti hunungan Swasta dan Stake Holder dengan Para Jurnalis. Bagaimana kita mau Maju satu Pemerintahan kalau tidak sesuai dengan SOPP dalam hal Apresiasi.

Jadi mohon kepada para Jurnalis seluruh Dunia termasuk Jurnalis di Indonesia, begitu juga para Jurnalis di Medan dan Jurnalis di Palas, untuk meningkatkan Kwalitas kita menulis dan Kapabilitas Cara Kita Berfikir, semoga Outputnya adalah Memberikan Informasi yang Menyejukkan Hati dan Mensejahterakan Masyarakat.

Janganlah kita saling Menjelekkan, Mencari Kesalahan dan Menjatuhkan sesama Profesi. Karena ada Falsafah Sopir Angkutan “Sesama Sopir Ankot Janganlah Saling Mendahului”, sehingga bisa Saling Tabrakan, baik Tabrakannya dari depan maupun dari Belakang. Dan mohon juga kepada para Jurnalis untuk tidak melakukan Pemaksaan kepada Pemerintah, Kepada Pemerintah dan S, Pembohongan, Pengemopan, kepada Pemerintah, Para Swasta dan Stakeholder.

Begitu juga jangan merampas Hak sesama Jurnalis, Penipuan untuk mendapat lebih banyak lagi hak kita, saling Menjatuhkan sesama Profesi. Bagi kita yang sudah Senior dan Profesional agar di tuntun Juniornya, karena di Dunia Kewartanan masih ada Istilah Senior dan Junior. Janganlah yang sudah Senior semakin Angkuh dan Merasa Sok Senior, karena di dunia Jurnalistik “Bukan Sok Merasa Bisa, tapi Bisa Merasakan” Penderitaan Orang Banyak. NB : Tulisan saya bukan Sentimen Murni. Karena ini Demi kita, Oleh Kita dan Untuk Kita khususnya di Padang Lawas. (DEWA JARLUB S.SOS / JAWA-ARAB-LUBIS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here