MEDAN ketikberita.com | Provinsi Sumatera Utara mengalami inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 2,71 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 114,12 pada September 2026.
Kepala Bagian Umum Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara (BPS Sumut), Dadan Supriadi, menyampaikan data perkembangan harga komoditas tersebut di Medan pada Kamis (1/10/2026).
“September 2026, terjadi inflasi year-on-year di Provinsi Sumatera Utara sebesar 2,71 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 114,12,” kata Dadan.
Laju inflasi tahunan tertinggi tercatat di Kota Gunungsitoli yang menyentuh angka 4,40 persen dengan IHK sebesar 117,12.
Sementara itu, Kabupaten Deli Serdang mencatatkan angka inflasi y-on-y terendah di wilayah ini sebesar 2,29 persen dengan IHK sebesar 114,55.
Tekanan inflasi y-on-y terjadi seiring kenaikan harga yang tecermin dari lonjakan indeks pada sebelas kelompok pengeluaran secara menyeluruh.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami lonjakan tertinggi sebesar 7,07 persen, disusul kelompok transportasi sebesar 3,95 persen.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mencatatkan kenaikan 3,47 persen, sedangkan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan naik 3,45 persen.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 2,71 persen serta kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 2,62 persen.
Selain itu, kelompok kesehatan meningkat 2,06 persen dan kelompok perlengkapan, peralatan, serta pemeliharaan rutin rumah tangga naik 1,73 persen.
Adapun kelompok pendidikan mengalami kenaikan 1,24 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,92 persen, serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,87 persen.
Perkembangan harga berbagai komoditas pada September 2026 secara umum mengindikasikan adanya pergerakan menanjak dibanding periode tahun sebelumnya.
“Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 111,11 pada September 2025 menjadi 114,12 pada September 2026,” ujar Dadan.
Dadan memaparkan tingkat inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) Sumatera Utara pada September 2026 tercatat berada di angka 0,14 persen.
Sementara itu, tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) Provinsi Sumatera Utara hingga September 2026 mencapai 1,67 persen.
Sejumlah komoditas utama muncul sebagai penyumbang dominan terhadap andil inflasi y-on-y di Sumatera Utara pada September 2026.
Komoditas tersebut meliputi emas perhiasan yang memberikan andil 0,36 persen, daging ayam ras 0,33 persen, dan bensin 0,21 persen.
Cabai rawit turut menyumbang 0,17 persen, disusul beras serta minyak goreng yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,14 persen.
Komoditas lain seperti tomat memberikan andil 0,12 persen, diikuti ikan kembung/gembung/banyar/gembolo/aso-aso sebesar 0,10 persen.
Telepon seluler memberi andil 0,09 persen, sedangkan angkutan udara, laptop/notebook, dan sigaret kretek mesin (SKM) masing-masing menyumbang 0,06 persen.
Ayam goreng, ikan dencis, serta udang basah masing-masing memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,05 persen.
Sementara sigaret kretek tangan (SKT), mie, ikan tongkol/ambu-ambu, dan air kemasan memberikan kontribusi sebesar 0,04 persen, disusul biaya les/privat 0,03 persen.
Di sisi lain, beberapa komoditas menahan laju inflasi dengan memberikan andil deflasi y-on-y pada September 2026.
Cabai merah menjadi penyumbang deflasi y-on-y terbesar mencapai 0,34 persen, diikuti bawang merah sebesar 0,28 persen dan cabai hijau 0,07 persen.
Kentang serta kol putih/kubis masing-masing menahan inflasi sebesar 0,04 persen.
Penyumbang deflasi berikutnya adalah bawang putih, labu siam/jipang, kacang panjang, dan detergen cair yang masing-masing memberi andil 0,02 persen.
Komoditas lain yang menahan inflasi sebesar 0,01 persen meliputi bayam, sawi putih/pecay/pitsai, daun bawang, buncis, pembersih lantai, telur ayam ras, daging babi, popok bayi sekali pakai/diapers, mangga, dan wafer.
Untuk dinamika bulanan, komoditas utama penyumbang andil inflasi m-to-m September 2026 dipimpin oleh cabai merah sebesar 0,35 persen.
Daging ayam ras menyumbang inflasi bulanan sebesar 0,11 persen, beras 0,02 persen, serta kontrak rumah 0,01 persen.
Ikan kembung/gembung/banyar/gembolo/aso-aso, ikan lele, cabai hijau, air kemasan, dan semangka juga masing-masing menyumbang 0,01 persen secara m-to-m.
Penahan laju inflasi bulanan dialami oleh tomat yang memberikan andil deflasi m-to-m terbesar yaitu 0,09 persen.
Cabai rawit memberi andil deflasi m-to-m 0,07 persen, angkutan udara 0,05 persen, serta jengkol, emas perhiasan, dan kentang masing-masing 0,02 persen.
Komoditas penyumbang deflasi m-to-m sebesar 0,01 persen antara lain bayam, ikan tongkol/ambu-ambu, terong, ikan dencis, sawi putih/pecay/pitsai, kacang panjang, udang basah, bawang putih, minyak goreng, ketimun, jeruk, buncis, kol putih/kubis, dan pengharum cucian/pelembut.
Ditinjau dari kontribusi kelompok pengeluaran, seluruhnya mencatatkan andil positif terhadap inflasi y-on-y Sumatera Utara September 2026.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menyumbang andil inflasi y-on-y terbesar mencapai 0,96 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,44 persen, diikuti kelompok transportasi sebesar 0,37 persen.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran memberi andil 0,29 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,16 persen.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga berkontribusi 0,14 persen, disusul kelompok pakaian dan alas kaki 0,13 persen.
Adapun kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga menyumbang 0,09 persen, kelompok pendidikan 0,06 persen, kelompok kesehatan 0,05 persen, dan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,02 persen. (red)







