Meski Tidak Terlalu Tinggi, Jelang Ramadhan dan Idul Fitri Inflasi Perlu Diwaspadai

190

MEDAN ketikberita.com | Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Doddy Zulverdi (foto), mengingatkan untuk mewaspadai kenaikan inflasi menjelang Ramadhan – Idul Fitri 1444 H atau tahun 2023, meskipun tidak terlalu tinggi.

“Kita tetap perlu waspada, karena Inflasi polanya selalu begitu, selalu naik disetiap tahunnya,” kata Doddy Zulverdi dalam kegiatan Bincang Bareng Media (BBM), Selasa (21/3/2023) di lantai III Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara.

Menurutnya, adapun pola kenaikan tersebut banyak dipengaruhi pada komoditas pangan, seperti cabe merah, cabe rawit, daging ayam, beras dan bawang merah.

Sedangkan, diluar komoditas pangan, ada juga angkutan udara yang naiknya cukup tinggi, tarif angkutan darat.

“Nah, ini belum kita antisipasi, tapi kita persiapkan baik pangan dan non pangan. Maka, dalam upaya antisipasi naiknya inflasi khusunya menjelang hari besar keagamaan ini Bank Indonesia sejak beberapa bulan terakhir meningkatkan koordinasi dengan berbagai pihak,” ujarnya.

Lebih lanjut, disebutkan Doddy Zulverdi, dalam upaya antisipasi kenaikan inflasi secara umum (bukan hanya karena menjelang Ramadhan – Idul Fitri), Bank Indonesia sudah memperkuat melalui suatu gerakan yang dilakukan sejak tahun lalu, yakni Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Diketahui, pada wilayah Sumatera, penguatan GNPIP difokuskan melalui optimalisasi digital farming sisi hulu dan perluasan KAD (Kerjasama Antar Daerah) secara terintegrasi.

“Ini sebenarnya bagian dari roadmap atau pelaksanaan tugas TPID yang sudah ada, cuman kita fokuskan pada beberapa program. Untuk tahun 2023 ini kami sudah sepakat dengan berbagai pihak akan fokus secara garis besar di 7 bidang,” serunya.

Nah, paparnya, ada 7 program besar yakni optimalisasi operasi pasar, penguatan ketabahan komoditas pangan strategis melalui gerakan budidaya pangan, replika best practice klaster pangan, hilirisasi produk pertanian dan perluasan pupuk organik.

Program berikutnya, peningkatan pemanfaatan alsintan dan sarana prasarana produksi, penguatan KAD, fasilitas distribusi pangan, penguatan infrastruktur TIK, digitalisasi dan data pangan terakhir penguatan koordinasi dan komunikasi melalui penguatan capacity bulding, peningkatan konsumsi produk olahan dan diversifikasi pangan, penguatan koordinasi kelembagaan dan penguatan pengendalian ekspektasi.

“Karena memang pangan ini harganya cukup bergejolak, langsung mempengaruhi kesejehtaraan masyarakat terutama golongan bawah, maka kita perlu fokus disini,” tandasnya.

Adapun, sebelumnya Doddy Zulverdi menyampaikan dibeberapa periode bulan puasa (Ramadhan) dalam 5 (lima) tahun terakhir, inflasi bulanan itu selalu meningkat.

Tercatat sejak tahun 2018 inflasi bulanan (Ramadhan) saat itu naik sekitar 0,22% (mtm), tahun 2019 naik lebih tinggi 0,69%. Nah, di tahun 2020 inflasi berada di 0,43% dan di 2021 diangka 0,22%. Sedangkan, di tahun 2022 kenaikan mencapai 1,40%.

Bagaimana di tahun 2023, diakuinya, data terakhir Februari 2023 inflasi masih turun.”Kita ingin tahu bulan 3 dan 4 (Maret – April 2023) dimana ada bulan puasa dan lebaran, indikasi akan naik tapi belum terlalu tinggi tetapi kita tetap perlu waspada,” tutupnya. (red)