Gempa, Rehabilitasi Makam Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdullah Syah, Ayah Putroe Nurul A’la

178

ACEH TIMUR Ketikberita.com | Gerakkan Masyarakat Peduli Makan (Gempa) bersama Unsur kelembagaan dari RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia), Peutrang (Pejuang Tingkat Rendah) dan BMU (Barusan Muda Umat) ikut ambil andil melaksanakan rehabilitasi makan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Johan Berdaulat (1078 – 1109 M), yang sudah lama tidak terurus, Selasa (29/3/2022).

Di Desa Paya Meuligo. Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur.

Abdullah ketua GEMPA Aceh sebagai penggagas dengan segap mengkoordinir kegiatan rehabilitasi pada makam ini bersama kawan-kawan dari RAPI, PEUTRANG dan BMU.

“Kemuliaan Islam diAceh khususnya dan Asia Tenggara padum umumnya yang kita rasakan saat ini merupakan hasil perjuangan para kesultanan-kesultanan tersebut. Sudah seharusnya kita peduli dan merawatnya”, tandas Abdullah dilokasi makam Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah berdaulat.

Dilokasi yang sama, koodinator RAPI Aceh Timur, Syukriadi yang sering disapa Gambit oleh masyarakat Aceh Timur mengatakan kekesalan kepada piha pemerintah Aceh, baik itu Pemkab Aceh Timur maupun Provinsi Aceh, terindikasi tidak ambil peduli terhadap perhatian dalam perawatan makam para pejuang agama Allah ini.

“Isu yang sering terdengar, makam kesultanan di desa Paya Meuligo kecamatan Peureulak, Aceh Timur itu tidak bisa dianggarkan dengan dana APBK ataupun APBA jika asetnya tidak diambil alih langsung oleh daerah. Itu alasan yang konyol dan tak masuk akal. Jika secara transparan dan musyawarah dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat tentu semua hal itu tentu bisa terlaksana. Sebagai tuntutan undang-undang,” jelas Gambit.

Sambungnya, walau begitu, upaya menjadikan taman makan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah sebagai objek wisata tetap terlaksana dari donasi dukungan berbagai pihak. Selain itu, ia berharap semua komponen yang merasa dirinya sebagai muslim pada umumnya muslim Asia Tenggara, muliakanlah makam para alim ulama yang telah membawa kita semua menjadi makhluk yang dimuliakan oleh Allah SWT.

“Kiranya sudah menjadi tanggungjawab bersama untuk memelihara makam ini sebagai bentuk penghargaan atas jasa yang mulia berdaulat,”tukasnya sambil meneteskan air mata. (AA)