Home / Ketik Berita / Provinsi / Sumatera Utara / Dorong Rumah Ibadah Jadi Pusat Mitigasi Bencana, Seabolga Gelar FGD Lintas Agama di Medan

Dorong Rumah Ibadah Jadi Pusat Mitigasi Bencana, Seabolga Gelar FGD Lintas Agama di Medan

MEDAN ketikberita.com | Komunitas Lingkungan Seabolga bersama Wahid Foundation dan Temasek Foundation menyelenggarakan program The Bloom Project. Salah satu rangkaian kegiatan dalam program ini adalah Forum Group Discussion (FGD) lintas agama bertajuk “Harmoni untuk Bumi” dengan tema “Safe and Climate Resilient Shelter in Medan 2026. Kegiatan ini berlangsung di Aula Jabal Nur, Asrama Haji Medan, Sabtu (07/03/2026).

FGD ini dihadiri oleh berbagai perwakilan lintas agama, tokoh perempuan, pemuda, serta sejumlah komunitas sosial dan lingkungan. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memperkuat kapasitas masyarakat lintas agama dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana, sekaligus mendorong peran rumah ibadah sebagai pusat perlindungan (safe shelter) dan ruang kegiatan sosial bagi masyarakat.

Dalam kegiatan ini, sejumlah narasumber dihadirkan untuk membahas berbagai topik yang berkaitan dengan ketahanan iklim dan mitigasi bencana. Setiap narasumber menyampaikan perspektif yang berbeda sesuai dengan latar belakang dan bidang keahliannya masing-masing.

Salah satu topik yang menjadi perhatian dalam diskusi adalah mitigasi bencana dan kolaborasi dengan rumah ibadah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Muhammad Qorib, MA selaku Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan.

Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalankan aktivitas keagamaan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai pusat edukasi serta penguatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi bencana. Menurutnya, rumah ibadah memiliki kedekatan sosial yang kuat dengan masyarakat sehingga dapat menjadi ruang strategis untuk menyampaikan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan serta kesiapsiagaan menghadapi bencana.

“Rumah ibadah merupakan ruang sosial yang sangat dekat dengan masyarakat dan dapat menjadi source of information. Karena itu, rumah ibadah memiliki peran strategis dalam menyampaikan nilai dan edukasi tentang lingkungan serta kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana,” jelasnya.

Lebih lanjut, Qorib juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi dengan berbagai instansi terkait serta menjalin kerja sama dengan pemeluk agama lainnya. Ia menjelaskan bahwa tantangan yang ditimbulkan oleh bencana alam memiliki dampak yang luas dan kompleks, sehingga diperlukan sinergi antara lembaga keagamaan, pemerintah, komunitas, serta berbagai institusi lainnya.

“Tantangan dan masalah yang muncul akibat bencana alam tidaklah kecil. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi dengan berbagai instansi dan pihak terkait. Permasalahan ini tidak bisa hanya dihadapi oleh satu institusi agama saja. Eksistensi kita tentu tidak sebanding dengan berbagai persoalan yang cukup kompleks,” ujarnya.

Sebagai penutup, Qorib berharap kerja sama lintas sektor dan lintas agama dapat terus diperkuat. Melalui kolaborasi tersebut, berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat khususnya yang berkaitan dengan kebencanaan dapat ditangani secara bersama-sama sehingga dapat membangun masyarakat yang lebih siap dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan. (NAN)