MEDAN ketikberita.com | Kekerasan seksual terutama pada anak bukanlah masalah sepele, melainkan ancaman bagi masa depan generasi bangsa. Menurut data dari kekerasan.kemenpppa.go.id, per periode 2025-2026 di Indonesia kasus pelecehan seksual pada anak perempuan usia 0-17 tahun mencapai 60-61% dan pada anak laki-laki usia 0-17 tahun menyentuh angka 39-40%.
Melihat urgensi tersebut, Salman Al Farici, lulusan Antropologi Universitas Sumatera Utara (USU) sekaligus Advocate dalam United Nations Entitiy for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women) Indonesia, membentuk sebuah program bernama “Boneka Kita” yang merupakan Child Education Initiative, dengan tagline “Empowering North Sumatra’s Youth with Culturally-rooted Sexual Education”.
Perjalanan Proyek Boneka Kita melewati tahapan yang cukup panjang. Tim ini terbentuk ketika Salman masih menyandang status mahasiswa yang kemudian mencoba mengangkat proyek ini ke ranah perkuliahan dan melakukan publikasi.
Tidak berhenti sampai disitu, demi mendapatkan pendanaan dan aksi yang nyata, Salman kemudian mengikutsertakan proyek ini dalam kompetisi Mahasiwa Berprestasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU) hingga akhirya memperoleh Juara 3.
Kerja keras dan upaya Salman membuahkan hasil ketika akhirnya Boneka Kita dapat direalisasikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Deli Serdang. Dengan pemilihan audiens yang tersegmentasi, Tim Boneka Kita memilih Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM), Pusat Sistem Informasi dan Konseling (PIK-R), tenaga pendidik, serta setiap ketua dan wakil ketua kelas untuk terlibat dalam proyek ini.
Kebijakan ini dilakukan karena berdasarkan hasil riset, pihak OSIM dan PIK-R di MAN 2 Deli Serdang memiliki kompetensi dan dampak yang sangat kuat dalam mengedukasi siswanya.
Tim Boneka Kita memberikan prevensi pencegahan kekerasan seksual pada anak, perlindungan diri, dan sensitif gender melalui berbagai pendekatan interaktif, mulai dari pemaparan materi, Focus Group Discussion (FGD), hingga debat untuk melatih mental dan pemahaman siswa/i akan pentingnya edukasi seksual sejak dini.
Bekal edukasi yang diberikan kemudian akan disebarluaskan melalui OSIM dan PIK-R, tenaga pendidik, serta ketua dan wakil ketua kelas, untuk diterapkan kepada seluruh siswa/i secara merata. Metode ini sudah dibuktikan secara konkret melalui survei, bahwa kegiatan ini terbukti efektif dan mendapatkan respons yang positif dari pihak sekolah.
“91% merasa bahwa ini adalah sosialisasi paling berdampak untuk mereka karena pendekatan dan metode yang jarang digunakan,” ujar Salman.
Melalui Boneka Kita, tim berharap kegiatan ini mampu membuka cakrawala pengetahuan baru siswa/I MAN 2 Deli Serdang dan mengurangi serta mencegah kasus-kasus kekerasan seksual di masa mendatang. (r/red)







