Tradisi Adat Mido Tawar Dalam Pesta Desa Suka Damai Masih Bertahan

82

ACEH SINGKIL ketikberita.com | Tradisi Adat Mido Tawar (tepung tawar) dalam pesta adat yang telah menjadi kebiasaan masyarakat Kampung Suka Damai Kecamatan Singkil yang telah diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun, Rabu (8/9/2021).

Dalam Adat Mido tawar tersebut dilaksanakan dihari pertama pesta baik dalam pesta adat pernikahan maupun pesta adat sunat rasul (khitan) yang dilaksanakan dua hari dua malam.

Nasruddin, salah seorang tokoh adat setempat mengatakan tradisi adat Mido tawar ini sudah ada semenjak pada masa nenek moyang kami dulu. Dan alhamdulillah saat ini masih bertahan sampai sekarang walaupun saat ini mulai terkikis oleh pengaruh zaman moderen ini.

Lanjut Nasruddin , didalam adat pesta Mido tawar ini disaat hendak makan bersama famili terdekat dari yang punya pesta seperti Puhun, bapak penguda, bapak memberu, anak bayo, uwan (kakek) Pengantin Sunat, wajib berada hadir dalam acara Mido tawar ini. yang juga didampingi oleh kepala desa, imam desa disaat hendak makan bersama. Itu sudah ketentuan adat. Ujarnya

Setelah acara makan dalam acara Mido tawar tersebut kepala desa menyerahkan kepada janang desa agar nantinya mengkomandoi atau mengatur urusan adat pada saat hari kedua pesta yaitu acara makan adat atau makan bersama. Pungkasnya

Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan bendera adat, langit – langit, yang akan dipasang di jorong yang terdiri atas empat tiang yang dilakukan balut dengan kain. diantaranya tiang pertama dibalut dengan kain kuning untuk kepala desa, tiang kedua kain warna putih untuk imam desa, kemudian kain warna untuk panglima dari unsur tokoh masyarakat, terakhir kain warna merah untuk perangkat desa. Tuturnya

Untuk itu, Nasruddin berharap adat istiadat dikemukiman Pemuka ini khususnya Kampung Suka akan tetap bertahan dan diteruskan kegenerasi muda lainnya. kepada pemerintah Desa Suka Damai ditahun depan agar tahun depan menganggarkan pelatihan mengenai adat istiadat kepada generasi pemuda dan pemudi di desa ini, agar nantinya seperti tradisi pesta pernikahan, sunat rasul, dan tradisi adat orang kemalangan, agar tidak berubah oleh pengaruh zaman yang serba canggih ini. Harapnya. (R84).