Tanpa Seizin Suami, Calon Pekerja Migran Indonesia Asal Tanara, Dibuatkan Paspor dan Medical Check Up Oleh Agen

71
Gambar : Ilustari

SERANG (Banten) ketikberita.com | Baru-baru ini di temukan lagi, sponsor/calo PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang non prosedural, inisial Hj. SM wanita asal Kabupaten Tangerang, sebagai perekrut CPMI (Calon Pekerja Migran Indonesia) adalah PL (Petugas Lapangan) dari agen berinisial SS yang bersuamikan MNR asal Kronjo Tangerang.

Dengan lihainya Hj.SM membujuk CPMI inisial B warga Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang untuk pasporan di Imigrasi Cilegon pada tanggal 10 Februari 2021, kemudian B disertakan medical check up di RS AM Jakarta Timur.

Dalam melakukan aktifitasnya sebagai sponsor/calo,wanita asal Tangerang inisial Hj. SM ini mengabaikan prosedur yang baku, yang seharusnya ditempuh diawal seperti surat pernyataan izin dari Suami/Orang tua/Keluarga, malah ditempuhnya belakangan setelah proses pasporan dan medical check up di laksanakan.

“Ini jebakan Batman,”kata DN Suami dari B membuka percakapan dengan awak media, Selasa (23/02/2021).

“Istri saya dibawa sama ibu Hj. SM untuk pasporan pada hari Rabu, 10 Februari 2021, kemudian medical check up tanpa sepengetahuan saya sebagai suaminya, lalu dengan iming-iming uang sejuta saya diminta tanda tangan menyetujui rencana keberangkatan istri sebagai PMI,”ungkap Pria yang juga seorang aktivis ini.

B saat di konfirmasi oleh awak media mengatakan, dirinya merasa tergoda oleh omongan ibu Hj SM, karena dijanjikan mendapatkan pekerjaan yang layak dan dapat uang fee jutaan rupiah kata Bu Hj nya.

“Memang saya belum meminta izin dari suami atau keluarga, karena Bu Hj nya juga tidak menanyakan hal itu, ungkap wanita dari dua orang anak ini.

“Jujur, saya nyesel ikut pasporan dan medical check up, karena telah meninggalkan 2 anak yang masih kecil, kemudian akibat dari itu saya merasakan sakit panas,” tuturnya.

“Apa akibat saya di suntik waktu medical itu yah, ada rasa mual dan panas, sampai tangan saya membiru akibat suntikan,”keluh B dengan nada penuh penyesalan .

Menanggapi persoalan Pekerja Migran Indonesia, Yusa Qorni dari LSM Geram Banten Indonesia Kab Serang, memberikan statementnya.

“Undang-undang nomor 18 tahun 2017 sudah jelas mengatur bahwa setiap PMI wajib mendapatkan pelindungan baik sebelum, semasa, maupun pasca bekerja di luar negeri karena tujuan dari UU nomor 18/2017 adalah untuk melindungi PMI di luar negeri, namun dirinya menyayangkan sampai hari ini belum ada perubahan yang signifikan, justru yang ada sekarang tambah sulit,”ungkapnya.

“Kalau saya berfikir sederhana saja, ada orang yang pergi bekerja di luar negeri tanpa prosedur, tanpa dokumen, dan tidak jelas siapa yang bertanggung jawab, patut diduga itu adalah tindakan pelanggaran. Di dalam UU Pelindungan PMI, sanksinya berat dan tegas,” ujarnya.

“Rekan saya DN bisa menempuh jalur hukum, buka saja laporan dugaan PMI Ilegal atau TPPO ke APH, karena alat bukti awal sudah cukup untuk menjerat sponsor/calo inisial Hj. SM itu,”pungkasnya. (tim/red)