Sidang Kasus Cabul Molor, Humas PN Sei Rampah Enggan Dikonfirmasi

206

SERGAI (Sumut) ketikberita.com | Johan Wijaya (34) pelaku pencabulan putri kandungnya dijatuhi hukuman 8 tahun penjara dan denda Rp500 juta rupiah oleh majelis hakim PN Sei Rampah. Hakim juga minta terdakwa ditahan, Kamis (25/2/2021).

Sidang Putusan Kasus Cabul Molor, yang seyogianya bersidang pukul 09.00 Wib Humas PN Sei Rampah Enggan saat Dikonfirmasi kenapa molor sampai Jam 11.00 Wib Lewat.

Informasi dari sidang Putusan sebelumnya Senin (22/2/2021) beberapa kali molor karena Terdakwa tidak bisa dihadirkan oleh JPU Hingga habis jam kerja akhirnya ditunda sampai hari Kamis(25/2/2021) Dengan alasan Lost Kontak, JPU Tak Bisa Hadirkan Terdakwa Pencabul Putri Kandung Ayah Bejad ini, 4 Tahun cabuli Putrinya, sempat dibantah Johan, Happy ibu korban : Bisakah Hasil Visum Direkayasa? Putusan ini lebih rendah 1 tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut 9 tahun penjara dan denda Rp500 juta.

Namun hingga sidang berakhir, JPU tidak bisa menghadirkan terdakwa.

Atas putusan ini kepada media, Happy (32), ibu korban pasrah namun ia minta jaksa segera menangkap dan menahan Johan.

“Kita terima putusan itu, tapi kami ingin jaksa pastikan terdakwa ditangkap dan ditahan,” ujarnya.

Ia minta jaksa segera mengeluarkan surat DPO (daftar pencarian orang) sehingga Johan bisa segera dicari. Pasalnya, untuk menghadirkannya ke pengadilan saja, jaksa tidak mampu padahal terdakwa dalam pengawasan jaksa, sebagai tahanan kota.

Happy pun menyatakan akan melapor kan hal ini ke Kapolri, Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung dan Kemenkumham agar terdakwa tidak bisa lari keluar negeri.

“Kita minta jaksa segera mengeluarkan surat DPO, sehingga terdakwa bisa di cekal kalau melarikan diri keluar negeri,” tandasnya.

Terdakwa sendiri dipergoki netizen sedang berada di rumah orangtuanya di Jalan Bugis No 8 Medan pada Rabu (24/2/2021). Hal inipun tersebar di media sosial.

Dari beberapa informasi yang diperoleh Media, jaksa Sei Rampah tidak terlalu serius menghadirkan Johan Wijaya karena mereka hanya menjalankan perintah dari Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara.

Sebagaimana diketahui, setelah kasus ini dilimpahkan ke Polda Sumut dari Polres Sergai, beberapa kali berkasnya P19 alias dikembalikan jaksa kejatisu. Namun setelah sejumlah aktivis anak bertemu dengan Aspidum Kejatisu, akhirnya perkara ini diterima.

Namun kendati diterima, kejatisu tidak menahan terdakwa saat pelimpahan berkas. Hingga perkara ini dilimpahkan ke Kejari Sei Rampah, terdakwa juga tidak ditahan. (AfGans)