Selain Lestarikan Ruang Kota Bersejarah, Konsep Disain Revitalisasi Jadikan Lapangan Merdeka sebagai Insfrastruktur

29

MEDAN ketikberita.com | Revitalisasi Lapangan Merdeka yang dilakukan Wali Kota Medan Bobby Nasution bukan saja menyahuti aspirasi masyarakat, lebih dari itu, memimpin perjuangan masyarakat untuk membebaskan Lapangan Merdeka. Perjuangan ini pun mendapat dukungan dari Gubsu Edy Rahmayadi, yang bahkan menjanjikan bantuan dari pemerintah provinsi sebesar Rp100 miliar.

“Saya lihat gambaran revitalisasi Lapangan Merdeka yang dibuat Bobby bagus. Saya dukung itu. Coba dibantu Rp100 miliar, dari mana dananya dicari tahu,” ucap Gubsu Edy Rahmayadi kepada Kepala Bappeda Sumut Hasmirizal Lubis, dalam sebuah rapat koordinasi di aula Tengku Rizal Nurdin Rumah Dinas Gubsu beberapa waktu lalu. Sebelumnya, memang Bobby Nasution menunjuk Kepala Bappeda Medan, Benny Iskandar juga memaparkan konsep utama, pendekatan, dan disain revitalisasi.

Saat ditemui di ruang kerjanya, Benny Iskandar menyampaikan, konsep revitalisasi adalah pelestarian ruang kota bersejarah dan konteks dinamika rancang kota (urban design) kontemporer dengan pendekatan mempertahankan signifikansi sejarah dan karakter Lapangan Merdeka sebuah ruang terbuka publik .

Dalam presentasi itu disebutkan juga tentang intervensi disain dengan beberapa penekanan. Di antaranya, mempertahankan pohon trembesi tua dan fungsi sebagai ruang terbuka publik, menjadikan Lapangan Merdeka sebagai ruang terbuka hijau, juga sebagai mitigasi perubahan iklim.

Selain itu, lanjutnya, Lapangan Merdeka juga didisain sebagai ruang publik terbuka sekaligus ruang kota yang mengapresiasi sejarah Medan dan sejarah Proklamasi Kemerdekaan.

Disain revitalisasi ini juga diharapkan dapat menjadikan Lapangan Merdeka sebagai “void”, ruang terbuka kota, ruang kontemplasi dan refleksi untuk memahami sejarah masa lalu dan menyiapkan langkah pembangunan ke masa depan.

Dalam presentasi Benny juga disebutkan, disain revitalisasi ini juga menjadikan Lapangan Merdeka sebagai infrastruktur. Diterangkannya, akan dibangun parkir bawah tanah yang terang, puitis, dan humanis. Sedangkan resapan air dari ruang terbuka publik di atas basement parkir disalurkan ke “collector tunnel” raksasa di sisi Utara dan tidak membebani saluran drainase di luar Lapangan Merdeka. Selain parkir, di bassement juga ada jalur komersial yang akan ditata dengan apik dan menimbulkan kenyamanan.

Di samping itu, mengacu kepada konsep utama, revitalisasi ini juga mendisain Lapangan Merdeka sebagai panggung untuk rakyat. Direncanakan ada sistem tempat duduk di panggung pendopo hanya akan dinaikkan pada saat hendak digunakan.

Budayawan Shafwan Hadi Umry menyatakan dukungan atas program revitalisasi Lapangan Merdeka ini. Revitalisasi dengan diharapkan kian menumbuhkan kebersamaan masyarakat Medan yang multi etnik.

Shafwan menilai, pendekatan revitalisasi yang mempertahankan pelestarian sejarah dan karakter Lapangan Merdeka sebagai ruang publik terbuka sangatlah tepat.

“Manusia modern kian terisolasi di rumah-rumah, di villa-villanya sendiri. Tak ada lagi wahana pertemuan kultur. Revitalisasi Lapangan Merdeka ini merupakan langkah tepat untuk mewujudkan wahana pertemuan kultur, pertemuan keluarga Indonesia,” ungkap Shafwan yang juga dikenal sebagai penyair Indonesia asal Medan.

Revitalisasi ini, lanjutnya, sebagai bentuk pelestarian dan penghargaan kepada pendiri bangsa. Lapangan Merdeka menyimpan histori. Di Lapangan inilah, sebut Shafwan, pertama kali Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan di Sumut.

“Saya berharap, setiap 17 Agustus, Proklamasi yang dibacakan Bung Karno itu dikumandangkan di Lapangan Merdeka,” ucapnya seraya menyarankan di Lapangan Merdeka secara periodik digelar permainan-permainan rakyat yang bisa dinikmati oleh masyarakat Medan yang kian modern ini.

Shafwan menilai, revitalisasi ini layak didukung oleh warga Medan. “Ini sebuah langkah yang tepat. Layak didukung oleh masyarakat. Bagaimana pun revitalisasi ini dari, oleh, dan untuk masyarakat Medan,” tandasnya. (er)