Menelisik Jejak Hikmah Dibalik Peristiwa 1 Muharram 1442 H

105

MENGHIDUPKAN kembali agama berarti menghidupkan suatu bangsa. Hidupnya agama berarti cahaya kehidupan. Itulah secuil keterangan dari seorang ulama tasawuf Badiuzzaman Sayyid Nursi, didalam salah satu buku monumentalnya “Ar-Risalah Nur’. Agama jelas menjadi faktor fundamenal dalam mengatur hidup dan kehidupan.

Ia ibarat cahaya yang menerangi perjalanan umat manusia dimuka bumi untuk mewujudkan kotemplasi kepada sang pencipta. Mencapai kenikmatan ruhaniyah ditengah kehidupan yang cepat berubah seperti saat ini, merupakan tantangan berat yang harus dihadapi oleh setiap umat manusia.

Maka, membuat formulasi perubahan yang mengandung banyak makna positif adalah harapan bersama untuk menyegarkan kembali apa yang menjadi tujuan hidup kita. Memaknai tahun baru hijriyah dimasa pandemik seperi saat ini mungkin saja menjadi penawar bagi sekian banyak perkara hidup yang kita alami.

Sebab tahun baru hijriyah secara empirik dan secara sosiologis memiliki kandungan hikmah yang perlu kita urai lebih dalam lagi. Mari sedikit kita mulai dengan kronologis dibalik persitiwa bersejarah didunia tentang awal mula penanggalan kalender hijriyah Islam dari berbagai perspektif.

Peristiwa hijrah baginda Nabi Muhamad SAW dari mekkah ke madinah menandai penetapan awal perhitungan tahun bagi umat islam diseluruh dunia. Hal ini menjadi peristiwa bersejarah yang telah banyak diulas dalam berbagai literasi kajian khazanah keislaman. Penanggalan tahun baru dalam islam yang dimulai pada era sahabat Nabi, disisi lain menandakan telah tertatanya sistem pemerintahan diera kenabian (Nabi Muhammad Saw).

Fakta ini dapat kita telusuri lebih jauh saat nabi Muhammad SAW, mulai melakukan kerja – kerja kepemimpinanya (memerintah) dan mengatur kehidupan masyarakat dikota mekkah. Nabi Muhammad SAW, pada waktu itu memegang tampuk kepemimpinan paling strategis sebagai episentrum sistem dalam menata dan memenej pemerintahan. Manusia Sempurna Adi Luhung bernama Muhammad ini telah banyak meninggalkan jejak keteladanan yang luar biasa yang masih kita rasakan sampai detik ini.

Jiwa leadershipnya dalam mengemban amanah langit tidak main – main, ia justru berusaha keras meyakinkan kepada umat manusia bahwa; risalah langit yang ia terima langsung dari Allah SWT, adalah risalah yang membuka jalan terang bagi umat manusia. Sekali lagi, muhammad adalah refleksi dari sebuah esensi yang hakiki tentang semua hal. Atas Prestasi revolusioner yang ditorehkan oleh baginda Nabi muhammad SAW dalam mengatur dan memberikan keteladanan bagi umat manusia dimuka bumi, Mickhel Heart seorang ilmuan barat menempatkan nabi Muhammad Saw sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dan bersejarah didunia.

Kita dapat mengatakan bahwa hampir seluruh perbuatan, peristiwa, dan pertingkah Muhammad Saw selalu mengandung hikmah yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari – hari. Tak terkecuali dengan persitiwa hijrahnya beliau dari mekkah ke madinah sebagai formula baru kebangkitkan umat islam dalam menempuh petualangan dan perdaban baru, dalam membangun tatanan masyarakat yang sistemik dan terarah berdasarakan periodesasi (penanggalan).

Sepengal Hikayat penetapan tahun baru Hijriah

Sebelumnya, orang Arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad Saw telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriah. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah Saw adalah pada tahun gajah.Abu Musa Al-Asyári sebagai salah satu gubernur pada zaman Khalifah Umar r.a. menulis surat kepada Amirul Mukminin yang isinya menanyakan surat-surat dari khalifah yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulan saja, sehingga membingungkan.

Khalifah Umar lalu mengumpulkan beberapa sahabat senior waktu itu. Mereka adalah Utsman bin Affan r.a., Ali bin Abi Thalib r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Sa’ad bin Abi Waqqas r.a., Zubair bin Awwam r.a., dan Thalhah bin Ubaidillah r.a. Mereka bermusyawarah mengenai kalender Islam. Ada yang mengusulkan berdasarkan milad Rasulullah Saw. Ada juga yang mengusulkan berdasarkan pengangkatan Muhammad Saw menjadi Rasul. Dan yang diterima adalah usul dari Ali bin Abi Thalib r.a. yaitu berdasarkan momentum hijrah Rasulullah Saw dari Makkah ke Yatstrib (Madinah).

Maka semuanya setuju dengan usulan Ali r.a. dan ditetapkan bahwa tahun pertama dalam kalender Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah Saw. Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender hijriah ini diambil dari nama-nama bulan yang telah ada dan berlaku pada masa itu di wilayah Arab.

Wajah Tahun Baru Masehi dan Hijriyah

Kita mungkin dapat melihat secara nyata bagaimana perayaan tahun baru islam sampai saat ini masih belum menjadi perayaan heroik dan primadona sebagaimana perayaan tahun baru masehi. Perayaan heroik dalam memperingati tahun baru islam yang dimakud penulis adalah sebuah momentum perayaan yang kaya dengan perenungan dan refleksi serta bermuhasabah dalam kotemplasi kepada sang khalik.

Salah satunya adalah usaha untuk meningkatkan spiritualitas dan meneguhkan spirit islam rahmatalilalamin pada berbagai sendi – sendi kehidupan. Tentu saja, ada berbagai cara dan tradisi yang unik dalam memperingati tahun baru islam diberbagai belahan negara diseluruh dunia.

Di Indonesia misalnya, sambutan terhadap datangnya tahun baru islam dilakukan dengan menggelar berbagai agenda. Tabligh akbar, paway obor, ceramah – ceramah keagamaan, dan sederat agenda lainya merupkan artikulasi sosiologis masyarakat islam diIndonesia. Sebab kehidupan masyarakat islam diIndonesia cukup menjadi perhatian masyarakat dunia. Islam yang menghargai kebudayaan masyarakat lokal telah berlangsung sejak lama diIndonesia. Oleh karenanya, nilai – nilai yang terkandung dalam kebudayaan merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia sebagai bangsa yang arif, dan hidup berdampingan ditengah perbedaan.

Namun tak dapat dipungkiri juga bahwa, derasnya arus globalisasi yang mulai merambah ditengah kehidupan masyarakat islam akhir – akhir ini justru membawa pengaruh yang mesti menjadi perhatian bersama. Disadari atau tidak, project modernisme yang sukses dibangun oleh dunia barat lambat laun mulai mengikis esensi moralitas juga nilai – nilai ketuhanan. Waktu yang disediakan untuk membangun spiritualitas kepada Tuhan, mungkin hanya disediakan sekian persen saja.

Tetapi waktu yang disediakan untuk membangun kemapanan duniawi, diberikan slot yang lebar, dan kita dapat melakukan apapun yang kita kehendaki. Mungkin kita boleh mengatakan bahwa; tak selamanya, project modernisme itu selalu membawa kita kepada dunia baru yang lebih simpel dan praktis. Pergeseran nilai luhur yang menjadi warisan turun temuran bagi anak – anak bangsa sepertinya mengalami fase regresif (kemunduruan) dalam berbagai sendi kehidupan.

Kilas Balik Projcet Modernisme dan spirit spiritualitas

Saya ingin mengulas kembali soal sisi lain dibalik gemerlapnya project modernisme (sains modern) yang banyak digandrungi oleh umat manusia sampai saat ini. Secara singkat, spirit modernisme mulai muncul diawal abad 16-17, dimulai dengan sebuah persitiwa yang kita kenal sebagai zaman pencerahan atau renaissance. Para cendikiawan barat pada waktu itu berbondong – bondong membawa misi perubahan dunia kearah yang lebih maju dan modernis.

Mereka ibarat mesin yang mencetak jutaan produk unggulan yang akan disebar keseluruh dunia. Produk – produk unggulan itu tak lain adalah para pemikir, penggiat, ilmuawan, filosuf, dan kaum revolusioner yang ingin membangun tatanan dunia baru. Apakah mereka berhasil dengan renaissance-nya? Jawabanya adalah benar. Mereka berhasil mewujudkan mimpinya untuk mengubah dunia dengan segala kemajuan teknologi modern yang dapat kita nikmati hingga kini.

Namun, perlu kita garis bawahi bahwa, modernisme bukanlah satu – satunya alternatif untuk memajukan kualitas manusia diabad dua puluh satu ini. Mereka memang sukses mencapi tujuanya untuk membangun kualitas manusia dengan berbagai pendekatan rasionalitas -teknologis. Tetapi disisi lain ada semacam aspek kearifan yang mulai tergerus dan terjamah oleh dominasi kebudayaan baru (barat). Kritik Seyyed Hosen Nasr terhadap project modernisme atau sains modern memang menganggumkan, ia mengatakan bahwa Sains modern Barat telah membawa dampak dekadensi nilai dalam ilmu pengetahuan dan krisis spiritual dalam kehidupan sosial.

Sejak renaisans di Barat manusia lepas dari nilia akibat desakralisasi sains, menciptkan sains yang materialis positivistik yang melepaskan tanggungjawab moral manusia terhadap alam. Itulah mengapa kehidupan manusia diera modern seperti saat ini saling berlomba mencapai kemajuan teknologis, dan tak jarang diantara kemajuan – kemajuan tersebut membawa dampak celaka bagi tatanan nilai luhur yang lebih arif dan bijakasana. Sepertinya, kita mesti kembali rehat sejenak dari siklus kehidupan modern yang tampa disadari telah mendorong setiap individu untuk menjadi manusia – manusia yang abai terhadap sumber kosmologi ilahi.

Karena itu, melalui refleksi peringatan tahun baru hijriyah yang jatuh pada bulan tanggal 20 agustus, atau selang beberapa hari setelah hari kemerdekaan Republik Indonesia ditahun 2020 / 1442 Hijriyah ini, menjadi tugas bersama untuk mengurai persoalan dan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara melalui pendekatan agama yang baik dan benar. Sebab, tahun baru hijriyah mesti dimaknai sebagai kesempatan untuk melakukan perpindahan, perubahan, dan lompatan yang konstruktif, dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman yang berjalan dan berubah dengan sangat cepat.

Memegang teguh dan melakukan proses pendalaman atau menggali nilai keagamaan saya kira menjadi siklus yang harus tetap berjalan ditengah project modernisme seperti saat ini. Sebab, semua hiruk pikuk kehidupan yang kita alami dan menjadi beban buat hidup kita, salah satu jalan terbaik untuk menyelesaikan semua itu adalah dikembalikan pada Agama.

Sebab, pemahaman terhadap agama yang hanya sekedar formalitas tanpa makna, hanya akan memberi sedikit keluasan dalam memaknai hidup. Sebaliknya, jika kita memiliki spirit kontemplasi yang benar terhadap agama dan Tuhan, maka kita tidak akan gampang membangun jarak (membatasi) hubungan kita dengan pemilik seluruh alam ini.

Ditulis oleh : Akbarudin, S. Sy.,M. E (Ketua PW. IPNU Banten Masa Khidmat 2014-2017)   (red)