Mencari Keberkahan Dari Pemasaran “Halal Food”

417

DALAM Q.S Al-Baqarah ayat 168 Allah SWT Berfirman : “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Islam adalah agama yang mengatur semua lini kehidupan manusia, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Semua hal tersebut diatur sedemikian rupa bertujuan agar manusia itu tetap dalam koridor fitrahnya. Tak terkecuali yang berhubungan dengan apa yang ia makan. Tak heran ketika seorang orientalis bernama HAR Gibb, tanpa malu-malu memuji ajaran Islam.

Dia berkata: ”Islam bukanlah semata-mata ajaran ibadah dan upacara, bahkan meliputi politik dan kenegaraan, sosial dan ekonomi, undang-undang dan kekuasaan, serta perang dan perdamaian. Islam adalah satu sistem yang hidup.

Di dalam Islam jelas mengatur makanan yang dikonsumsi itu harus memenuhi dua kriteria, yaitu “halal” dan “Thayyib” sesuai dengan firman Allah SWT di atas.

HALAL

Kriteria halal yang pertama dalam makanan adalah zat yang terkandung di dalamnya atau bahan pembuatnya dipastikan tidak mengandung unsur yang haram, kedua diperoleh dengan cara yang halal. Walaupun zat yang terkandung didalam makanan tersebut halal sesuai kriteria pertama tetapi jika diperoleh dengan cara yang haram maka makanan tersebut masuk dalam kategori haram, ketiga diproses dengan cara yang halal.

Semua alat yang digunakan selama proses untuk menjadikan makanan tersebut juga harus steril dari yang haram, keempat disajikan dan atau disimpan ditempat yang halal.

THAYYIB

Toyyib sendiri memiliki arti “baik” yang dalam artian memiliki mutu dan kualitas yang baik dan tidak merusak kesehatan. Dan kita sebagai umat muslim, diharuskan hanya mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan toyyiban (Q.S Al-Baqarah ayat 168).

Adapun kriteria thayyib itu menurut para ulama antara lain Pertama, makanan disebut thayyib atau baik dikonsumsi ketika makanan tersebut tidak membahayakan fisik dan akal, Kedua, makanan disebut thayyib apabila makanan tersebut mengundang selera, Ketiga, makanan disebut thayyib apabila makanan tersebut halal, tidak najis dan tidak diharamkan.

PEMASARAN “HALAL FOOD”

Islam adalah agama mayoritas di Indonesia. Data World Population Review, jumlah penduduk muslim di Tanah Air (Tahun 2020) mencapai 229 juta jiwa atau 87,2% dari total penduduk 273,5 juta jiwa. Itu bukanlah angka yang kecil, bahkan dapat diprediksi angka tersebut akan semakin bertambah. Menurut Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center Sapta Nirwandar Indonesia adalah adalah pengekspor produk ekonomi halal terbesar diantara negara lain yang mayoritas penduduknya muslim dengan nilai USD 7,6 miliar pada 2017.

Tentang wisata halal di Indonesia (halal Food) merupakan segmen pariwisata yang menyasar target wisatawan muslim. Beberapa hal yang perlu dimiliki destinasi wisata untuk pengembangan wisata halal adalah menyediakan makanan halal, fasilitas pendukung seperti tempat berwudlu dan mushalla, serta memiliki pelayanan yang ramah muslim (Menteri pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Sandiaga Salahuddin Uno).

Beberapa provinsi yang penduduknya mayoritas muslim di Indonesia (Aceh, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Jakarta) yang telah mengembangkan potensi wisata halal termasuk halal food sudah saatnya menjadi contoh ke Provinsi dan Kabupaten Kota yang ada di Indonesia dengan alasan konsep halal food itu bukan saja dapat diproduksi dan dinikmati oleh yang muslim tetapi dapat juga diproduksi dan dinikmati hampir semua lapisan masyarakat, apalagi dengan populasi penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim tentu ini menjadi pangsa pasar yang sangat menjanjikan.

Beberapa produk di Indonesia selain produksi makanan juga sudah mulai melirik hal tersebut, dimana kita melihat dipasaran sudah banyak produk kecantikan, detergen, dll sudah melabeli produk mereka dengan label halal dari MUI. Bukan hanya produsen muslim tetapi juga produsen non muslim turut antusias dalam hal ini. Ini semua tentu karena melihat pangsa pasar yang besar di Indonesia yang mebutuhkan produk dengan syarat halal dan baik. Selain produsen, konsumen untuk “halal food” tersebut juga bukan hanya muslim saja, tetapi juga konsumen yang non muslim.

Dengan melihat potensi “halal food” yang begitu besar tentu ini menjadi sebuah keberkahan bukan hanya kepada yang muslim saja tetapi juga non muslim turut mendapatkan keuntungan. Dengan demikian “halal food” menjadi hal yang memberikan keberkahan untuk Indonesia yang kita cintai ini. Wallahu a’lam.

OLeh : Daul Gultom, S.Pd.I
Penulis adalah Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Pembangunan Panca Budi