Kondisi Covid-19 Terkendali, Tahun 2021 Ekonomi Sumut Tumbuh 2,61%

155

MEDAN ketikberita.com | Didorong oleh kondisi pandemi (Covid-19) yang relatif terkendali, tren pemulihan ekonomi global, dan masih berlanjutnya stimulus fiskal hingga akhir tahun, menjadikan ekonomi Provinsi Sumatera Utara (Sumut) keluar dari zona kontraksi dan tumbuh mencapai 2,61% (yoy) di tahun 2021.

Dari sisi pengeluaran, ekspor tercatat sebagai sumber pertumbuhan ekonomi Sumut. Harga komoditas yang terus mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya permintaan negara mitra turut mendorong pertumbuhan ekspor Sumut.

Sedangkan, dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor pertanian yang cukup resilien di tengah pandemi. “Namun begitu, penanganan kesehatan melalui vaksinasi dan disipilin prokes tetap akan menjadi kunci pemulihan ekonomi Sumut ke depan,” kata Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sumut, Doddy Zulverdi (foto), Kamis (17/2/2022) pada Bincang Bareng Media (BBM) di Kantor Perwakilan BI Provinsi Sumut.

Lebih lanjut, dikatakanya, secara bulanan, Sumut pada Januari 2022 mengalami inflasi. Indeks Harga Konsumen (IHK) gabungan 5 kota di Sumatera Utara pada bulan ini tercatat 1,03% (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,46% (mtm). Realisasi ini lebih tinggi dari nasional yang menunjukkan inflasi sebesar 0,56% (mtm).

Inflasi didorong oleh kenaikan harga daging ayam ras dan telur ayam ras, yang banyak didorong oleh peningkatan permintaan seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, dan naiknya harga pakan ternak ayam.

Selain itu, inflasi didorong oleh kenaikan harga rokok akibat kenaikan cukai rokok pada awal tahun 2022 yaitu sebesar rata-rata 12%. Secara spasial, seluruh kota IHK tercatat mengalami inflasi.

Kota Sibolga mencatatkan inflasi tertinggi di antara 5 kota IHK di Sumatera Utara, yaitu sebesar 1,53% (mtm). Selanjutnya, diikuti Kota Medan sebesar 1,04% (mtm), Kota Pematangsiantar sebesar 0,96% (mtm), Kota Gunungsitoli sebesar 0,93% (mtm), dan Kota Padangsidempuan sebesar 0,90% (mtm).

Harga komoditas Bawang Merah, Bawang Putih dan Daging Ayam terpantau naik. Berakhirnya masa panen Bawang Merah dan Bawang Putih di Jawa dan masa panen Daging Ayam di Deli Serdang menyebabkan menurunnya pasokan ketiga komoditas tersebut sehingga menyebabkan kenaikan harga.

Sebaliknya harga komoditas Cabai Merah, Cabai Rawit, dan juga Telur Ayam terpantau turun. Masuknya pasokan aneka Cabai dari Aceh dan pasokan Telur dari Pekan Baru dan Jakarta menjadi penyebab turunnya 3 komoditas tersebut. Sementara itu, harga keempat pangan strategis lainnya terpantau stabil. Dengan demikian, Indeks Komposit Komoditas (IKK) PIHPS secara harian bergerak turun (-0,31%), sementara rerata bulanan mencatatkan deflasi (-2,09%). (red)