Data BPS : Kemiskinan di Sumut Berkurang 6,1 Ribu Jiwa

261

MEDAN ketikberita.com | Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menyatakan adanya penurunan sebesar 0,09 poin dari Angka Tingkat Kemiskinan di Sumatera Utara.

Menurut BPS, ada penurunan angka kemiskinan sekira 6,1 ribu jiwa dalam satu semester terakhir 2022 yang lalu. Sehingga tingkat perekonomian di Indonesia, termasuk di Provinsi Sumatera Utara, tampaknya mulai bangkit dan pulih.

Ketua Tim Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara Sumut, Azantaro, SE,MSi (foto) mengatakan, pada bulan Maret 2022 persentase angka Kemisikinan Sumut 8,42 % turun menjadi 8,33 persen pada September 2022.

“Angka kemiskinan ini setara dengan 1,26 juta jiwa pada September 2022, atau berkurang sekira 6,1 ribu jiwa dalam satu semester terakhir,”ujar Azantaro.

Ia menjelaskan, persentase penduduk miskin pada September 2022 di daerah perkotaan sebesar 8,63 persen, dan di daerah pedesaan sebesar 7,96 persen. Baik daerah perkotaan maupun perdesaan mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,13 poin, dan 0,02 poin jika dibandingkan Maret 2022.

Disebut Azantaro, Garis Kemiskinan pada September 2022 tercatat sebesar Rp.592.025,-/kapita/ bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp.448.623,- (75,78%) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp.143.402,- atau sekitar 24,22 persen.

Pada periode Maret 2022 – September 2022, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) mengalami peningkatan, namun sebaliknya, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan adanya penurunan. P1 naik dari 1,365 pada Maret 2022 menjadi 1,411 pada September 2022, sementara P2 turun dari 0,343 menjadi 0,339.

“Naiknya P1 mengindikasikan adanya kecenderungan peningkatan rata-rata pengeluaran penduduk miskin yang kurang mampu mengikuti peningkatan garis kemiskinan, atau dengan kata lain kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan berkurang.

Selanjutnya P2 – yang memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin – turunnya indeks ini mengindikasikan berkurangnya ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin, atau dengan kata lain penyebaran pengeluaran semakin baik atau merata,” terang Azantaro lagi. (red)

 

Artikulli paraprakHUT ke 72 Penerangan TNI AD, Membangun Kepercayaan Menguatkan Kemitraan
Artikulli tjetërApresiasi Pengajuan Ranperda Perlindungan & Pengembangan UMKM, Bobby Nasution: Dibutuhkan Payung Hukum