CIUJUNG INSTITUTE : Yang Kami Tolak Bukan Normalisasi Sungai Ciujung Lama , Yang Kami Tolak Adalah Pembangunan Sodetan Atau Intake Sungai Ciujung Baru (Kali Jongjing)

520

SERANG (Banten) ketikberita.com | Ciujung Institute, bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan aksi Aktivis Serang Utara menolak sodetan (intake) pada pekerjaan Long Storage Sungai Ciujung Lama (kali asin) melalui pesan whatsApp nya memberikan keterangan kepada wartawan, Selasa (30/03/2021).

Yang kami tolak bukan normalisasi sungai Ciujung Lama atau kali Asin. Yang kami tolak adalah pembangunan Sodetan atau intake sungai Ciujung Baru (kali Jongjing), yang tercemari Limbah, dan airnya akan dialirkan ke sungai Ciujung Lama (kali Asin). Mohon untuk dapat melihat duduk persoalan dengan sebaik-baiknya ya.

Yang hadir dan mengikuti rangkaian aksi tadi pasti faham apa yang kami suarakan. Pun demikian dengan masyarakat pada umumnya. Aksi kami sangat-sangat terbuka dan disaksikan dengan banyak orang serta warga Sungai Ciujung Lama.

Aksi siang tadi sampai kepada forum audiensi yang dihadiri oleh Bpk. H.Ade Mukhlas (Owner PT. LInggar Bhakti Teknika), Kasat Intel AKP.Tatang.SH (perwakilan Polres Serang),Satpol PP Kab. Serang, Muspika Kecamatan Tirtayasa, keterwakilan kawan-kawan organisasi dan masyarakat bantaran Sungai Ciujung Lama.

Saya kira semua yang hadir sudah begitu memahami apa yang dituntut dan disuarakan oleh kawan-kawan kita. Jadi buat siapapun yang masih menyatakan “gerakan penolakan pembangunan Sodetan itu sebagai aksi yang sia-sia, dan sarat akan kepentingan tertentu, berarti yang menggangap demikian adalah orang – orang yang tidak tahu diri!, dan tidak pernah mau tahu seputar sungai Ciujung dan proses awal mula persoalanya”.

Dalam tulisan yang singkat dan sesederhana ini, saya dan kawan – kawan ingin menyampaikan beberapa hal terkait hasil audiensi pada hari Senin kemarin (29-03-2021), bertempat di aula kecamatan Tirtayasa Kab. Serang – Banten. Hasil audiensi tersebut menemui titik terang dan menghasilkan keputusan untuk “Di Tundanya Terlebih dahulu Pembangunan Intake (Saluran Konstruksi Air), yang bersumber dari Sungai Ciujung Baru yang tercemari limbah, ke Sungai Ciujung Lama”.

Meskipun demikian, kami akan tetap melanjutkan tuntutan penolakan pembangunan Intake sampai dapat diberhentikan secara permanen. Sebab sekali lagi, kami menolak pembangunan intake karena berpotensi mencemari daerah aliran sungai (DAS) Ciujung Lama yang masih terjaga struktur daya tampung dan daya dukung sungainya.

Ditambah, sungai Ciujung Lama merupakan warisan terbesar dalam sejarah pembangunan ekonomi agraris rakyat Banten di era Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Artinya, Ciujung Lama adalah maha karya Ageng Tirtayasa yang tidak boleh untuk dieksploitasi dan bahkan di nodai oleh sikap serakah manusia modern, dengan dalih dan dalil apapun!.

Sungai Ciujung Baru (Kali Jongjing), yang secara umum kita ketahui telah tercemari limbah, merupakan bentuk nyata dari kerusakan sumber daya air disepanjang sungai. Lalu pertanyaan, apakah layak sungai Ciujung baru dijadikan sumber air baku yang akan dikelola PDAM melalui saluran intake untuk kebutuhan masyarakat?. Di lain sisi, syarat utama pengelolaan sumber daya air adalah terbebasnya mutu atau kualitas air dari pencemaran, dan harus memenuhi kriteria kelas air sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah no 82 tahun 2001 tentang penetapan kelas, kriteria, dan baku mutu air.

Lebih jauh, dalam dokumen Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan Dokumen Study Kelayakan Proyek (DSKP) Kegiatan Air Tanah Dan Air Baku Tahun Anggaran 2021, tidak tercantum tentang surat pernyataan dan atau surat pengajuan (dukungan), Bupati Serang soal pembangunan Intake atau Sodetan dalam program Long Storage tahap II ini. Ini artinya bahwa harus ada penjelasan dan pertanggungjawaban atas bangunan intake dalam project tahap dua normalisasi sungai Ciujung Lama. Ditambah, project intake sama sekali tidak ada dalam blue print rencana long storage yang mengambil sumber air dari sungai Ciujung Lama yang tercemar Limbah.

Jika ditarik pada wilayah pertanyaan yang agak kritis, siapakah kemudian yang menginisiasi pembangunan intake dalam proyek normalisasi tahap ke -II ini?. Apa yang menjadi dasar pemikiran pembangunanya? Bagaimana kajian Lingkungan Hidup dan upaya pengendalian beban pencemaran air-nya?, dan kenapa konstruksi intake tidak mengambil sumber Air dari anak sungai atau Kali Bedeng (Sodetan Pamarayan), misalnya?. Pertanyaan – pertanyaan semacam itu mungkin dapat dijawab sembari kita mengadvokasi persoalan pembangunan intake sampai ke akar – akarnya.

Paling tidak, pemerintah daerah dalam hal ini Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian (BBWS-C3) beserta stake holder lainya, mesti memberikan jawaban – jawaban yang masuk akal, yang merujuk kepada perencanaan awal pembangunan, dan hasil uji lab atas sampel air sungai Ciujung Baru (Kali Jongjing).

Atas dasar itu, kami menolak apabila pembangunan sodetan (intake), tetap dilakukan dan dijadikan sebagai dasar untuk mengelola sumber daya air, yang sumber airnya sendiri dalam keadaan tercemar dan sangat tidak layak untuk dikonsumsi.
Ini bagian kecil dari penjelasan yang kami sampaikan pada saat audiensi dengan pihak -pihak Terkait seusai aksi pada hari Senin, 29 Maret 2021 kemarin. Kami tetap menolak pembangunan sodetan atau intake, yang kami dukung adalah normalisasi sungai Ciujung Lama.

Terimakasih buat kawan-kawan dan warga bantaran sungai Ciujung Lama yang mengawal dan terlibat dalam aksi penolakan kemarin. Meskipun pembangunan sodetannya diberhentikan sementara waktu sambil menunggu peninjuan ulang kembali dokumen Amdal dan UKL UPL-nya, kami tetap menuntut untuk ditutup secara permanen.

Terimakasih sekali lagi buat kawan-kawan yang sudah mengadvokasi persoalan pembangunan intake sampai sejauh ini. Kalian bagian dari orang – orang yang tetap utuh memperjuangkan hak – hak perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Terutama di sepanjang sungai Ciujung Lama (Kali Asin) yang masih terjaga ekosistem dan biota sungainya. (red)