Buka Kegiatan Membual Budaye, Bupati Mursil Minta Masyarakat Adat Ikut Intervensi Budaya Menyimpang di Aceh Tamiang 

66

ACEH TAMIANG ketikberita.com | Bupati Mursil meminta Masyarakat Adat Budaya Melayu Tamiang (MABMETA) dapat mengintervensi adat budaya yang menyimpang supaya jati diri budaya Tamiang dapat kembali. Demikian disampaikan Bupati Aceh Tamiang tersebut saat membuka perhelatan “Membual Budaye” bertajuk Revitalisasi Budaya Melayu; Mengembalikan jati diri yang semakin menjauh untuk lebih bermartabat dan bermarwah, Rabu (20/7/22) pagi di aula Kantor Kemenag setempat.

“Saya minta Mabmeta dapat mengintervensi adat budaya yang lama sudah ditinggalkan dan budaya menyimpang yang kini berkembang di tengah-tengah masyarakat,” pinta Bupati lugas.

Bupati Mursil kemudian memberikan contoh budaya yang lama sudah ditinggalkan dan budaya negatif yang kini berkembang dalam keseharian masyarakat.

“Dulu, setiap kali ada anak lahir, kita tanam satu batang kelapa saat turun tanah atau akikah. Itulah sebab kenapa di Aceh Tamiang ini banyak sekali pohon kelapa. Tapi sekarang itu tiada lagi, sudah lama ditinggalkan. Kemudian, pakai narkoba, ini kan budaya yang berkembang, terutama di kalangan pemuda kita. Ini budaya dari mana? Yang jelas ini bukan budaya kita sebagai masyarakat melayu,” sambung Bupati.

Untuk mengintervensi budaya-budaya tersebut, Mursil menyarankan Mabmeta melakukan komunikasi, berkoordinasi dan bersinergi dengan MAA dan MPU setempat. Menurutnya, momentum ulang tahun ke-4 Mabmeta yang diisi dengan diskusi budaya hari ini sangat tepat untuk melakukan intervensi guna mengembalikan penyimpangan budaya yang ada di masyarakat.

“Mari manfaatkan peringatan ulang tahun ini untuk membenarkan budaya kita. Mabmeta dapat bekerjasama dengan MAA dan MPU, sehingga budaya-budaya yang telah menyimpang dapat diperbaiki. Mudah-mudahan dengan peringatan ini banyak hal yang bisa dilakukan,” ujar Bupati menyampaikan harapannya

Pada penutupnya, Bupati Mursil menegaskan Pemkab mendukung penuh intervensi budaya untuk memperbaiki kondisi masyarakat menjadi lebih baik. Ia juga mengapresiasi panitia kegiatan Mabmeta yang sudah berhasil menggelar kegiatan yang sangat bermanfaat tersebut.

Sementara itu, dalam laporan Ketua Panitia, Drs. H. Ahmad As’adi, menghaturkan terima kasih kepada para undangan yang telah berhadir sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar dan meriah. Diungkapkan As’adi, kegiatan ini bukanlah kegiatan politik melainkan kegiatan khusus untuk membicarakan tentang kemajuan adat budaya di Aceh Tamiang.

Hal itu sejalan dengan pernyataan Ketua Mabmeta H. Hambali, mengatakan Membual Budaye digelar sebagai ajang diskusi bagi masyarakat adat guna memberikan sumbangsih pemikiran dan aktivitas adat budaya yang membawa Aceh Tamiang menjadi lebih bermartabat dan berkemajuan.

Kegiatan Membual Budaye menghadirkan Datok Sri Prof. Dr. Djohar Arifin Husin, Anggota Komisi X DPR-RI yang juga pakar adat budaya melayu dan Ketua Masyarakat Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI), dan Muntasir Wan Diman sebagai pakar adat budaya Melayu Tamiang.

Tampak hadir di antaranya tokoh masyarakat melayu Tamiang, Hamdan Sati, unsur Forkopimda, para pengurus MAA dan MABMETA, sejumlah perwakilan dari organisasi dan masyarakat adat melayu kabupaten tetangga, sejumlah Datok Penghulu dan Kepala Mukim serta para undangan lainnya. (ABS)