Bobby Nasution, Wali Kota Pertama yang Dengar Aspirasi Nelayan

140

MEDAN ketikberita.com | Selama ini masyarakat nelayan sering luput dari perhatian kepala daerah, sehingga merasa diabaikan dan dianaktirikan dari pembangunan yang dilakukan. Kondisi itu membuat kehidupan para nelayan sangat memprihatinkan. Stigma ini yang ingin dihapuskan Bobby Nasution, sejak dilantik menjadi Wali Kota Medan, persoalan nelayan menjadi fokus perhatiannya. Menantu Presiden Joko Widodo ini ingin membantu meningkatkan taraf kehidupan para nelayan.

Sebagai langkah awal, Bobby Nasution menghadiri rembug nelayan yang digagas DPP Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI). Dalam dialog dengan nelayan yang berlangsung di Jalan Sembilang Pajak baru, Kelurahan Belawan Bahagia, Kecamatan Medan Belawan, persisnya di pinggiran laut tersebut, orang nomor satu di Pemko Medan ini menampung seluruh keluhan yang disampaikan para nelayan. “Sampaikan semua permasalah, marah pun saya terima,” kata Bobby Nasution ramah dalam rembug nelayan.

Banyak keluhan yang disampaikan nelayan dalam pertemuan yang berlangsung penuh keakraban dan kekeluargaan tersebut. Mulai pembenahan Kampung Bagan Deli yang kumuh, persoalan banjir akibat air pasar, sulitnya mendapatkan BBM bersubsidi, asuransi untuk nelayan sampai pembinaan dan pelatihan UMKM untuk istri-istri nelayan. Semua keluhan itu ditampung Bobby Nasution untuk selanjutnya akan ditindaklanjuti sebagai upaya untuk meningkatkan taraf hidup nelayan.

Guna menjawab dan menentukan permasalahan yang dikeluhkan nelayan, Bobby Nasution mengatakan, Pemko Medan tidak bisa bekerja sendiri, tapi melibatkan Pemprov Sumut dan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Insya Allah, pembenahan Kampung Bagan Deli kita mulai tahun ini,” ungkapnya seraya menambahkan akan berkantor di kawasan Medan bagian Utara sehingga upaya untuk meningkatkan taraf hidup nelayan terwujud sesuai yang diharapkan.

Perhatian Bobby Nasution kepada para nelayan mendapat perhatian dari Dekan Fakultas Hukum Universitas Medan Area Dr M Citra Ramadhan SH MH. Dikatakan Citra, wilayah Kampung Bagan Deli yang rentan terkena dampak yakni kawasan pesisir dan perkotaan di dekat pantai, sehingga banjir pasang air laut merupakan tantangan yang nyata saat ini. Semua masalah yang ada, ungkapnya, telah diidentifikasi Wali Kota, bahkan dengan langsung turun mendengar keluhan-keluhan dari para nelayan yang sering terdampak banjir tersebut.

“Tentu upaya nyata dari Pak Bobby Nasution harus kita dukung sebagai upaya menjawab tantangan atas adanya banjir pasang air laut yang terus datang secara periodik atas adanya banjir pasang air laut yang terus menerus datang secara periodik,” kata Citra.

Dijelaskan Citra, upaya solutif yang dilakukan Bobby Nasution dengan melibatkan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Kementerian PUPR merupakan langkah yang tepat. Dikatakannya, pembenahan yang akan dilakukan tahun ini dengan pelaksanaan pembangunan, pengawasan dan pemeliharaan jalan, jembatan, pengairan, pemukiman dan gedung akan langsung mengurangi dampak banjir yang setiap tahunnya mendatangkan kerugian bagi para nelayan tersebut.

“Rembug nelayan ini menjadi bagian dari connected electoral yakni adanya keterhubungan antara pemimpin dan warganya sehingga tindakan pemimpin linear dengan apa yang menjadi aspirasi dan keinginan dari warga yang dipimpinnya. Komitmen yang ditunjukkan Pak Bobby Nasution dalam membenahi Kampung Bagan Deli ini sangat dirasakan para nelayan, sebab baru pertama kalinya ini aspirasi mereka didengar Wali Kota,” jelasnya.

Selanjutnya, menyikapi pernyataan Bobby Nasution yang ingin merealisasikan janjinya untuk berkantor di Medan bagian Utara dinilainya sebagai manifestasi dari kepemimpinan yang baik. Sebab, janji merupakan dasar bagi pertanggungjawaban pelaksanaan kekuasaan yang demokratis, sehingga realisasi dari janji adalah pemenuhannya, termasuk dan tidak terlepas dari yang dilakukan oleh Wali Kota dalam hal ini.

“Langkah yang dilakukan ini tentunya mendatangkan dampak positif dalam mendukung pembenahan di kawasan Medan bagian Utara. Masyarakat tentu merasa lebih dekat sehingga komunikasi akan lebih mudah terjalin, karena setiap informasi sangat bermanfaat untuk mempercepat pembenahan sekaligus memaksimalkan tercapainya tujuan yang ingin dicapai,” ungkapnya.

Selain itu, sambung Citra, sengaja atau tidak disengaja langkah ini juga akan bermanfaat sebagai pengawasan (controlling) dimana pemimpin ingin mengetahui apakah hasil pelaksanaan pembenahan yang dilakukan oleh jajarannya sesuai dengan rencana, perintah, tujuan atau kebijaksanaan yang telah ditentukan. Tentu kemudian, melalui langkah ini seluruh pihak akan merasa terawasi dalam prosesnya.

Agar pembenahan kawasan di Medan bagian Utara dapat berjalan dengan lancar, imbuh Citra, maka beberapa langkah yang harus terus menerus dijaga yakni kelancaran komunikasi, ketersediaan sumber daya (resources), komitmen yang cukup dari pelaksana program (disposition) dan struktur birokrasi (bureaucratic structure) yang terkoordinasi.

“Hal ini dilakukan gar keberlangsungan kehidupan yang baik di kawasan tersebut bisa terus menerus dipertahankan. Namun, setelah melihat keinginan masyarakat yang antusias dalam upaya pembenahan ini, tentu menimbulkan keyakinan nantinya konsep waterfront city dapat terwujud,” harapnya. (er)