Bangun Kolam Retensi, Langkah Bobby Nasution Dinilai Tepat, Mampu Kurangi Debit Air Di Kawasan Rawan Banjir

44

MEDAN ketikberita.com | Pembenahan drainase dan sungai melalui normalisasi merupakan langkah konkret yang dilakukan Wali Kota Medan Bobby Nasution dalam menangani banjir di Kota Medan. Selain itu menantu Presiden Joko Widodo ini akan membangun beberapa kolam retensi yakni tempat penampungan air hujan sementara waktu yang berfungsi untuk memotong puncak banjir yang terjadi dalam badan air atau sungai.

Danau Martubung di Griya Martubung, Kelurahan Besar, Kecamatan Medan Labuhan merupakan salah satu yang akan dijadikan kolam retensi guna mengatasi banjir di kawasan tersebut. Saat ini proses pengerjaannya tengah dilakukan. Kemudian, rencana pembangunan kolam retensi di Jalan Abdul Hakim, Kelurahan PB Selayang I, persisnya tak jauh dari Kantor Camat Medan Selayang guna mengatasi banjir yang selama ini terjadi akibat meluapnya Sungai Selayang.

“Pemko Medan akan membangun kolam retensi dekat Kantor Camat Medan Selayang. Kini sedang dilakukan proses pembebasan lahan. Saya minta pembebasan lahannya selesai bulan ini. Nanti kita cek ke Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Penataan Ruang, sebab saya sudah minta bulan ini harus siap. Doain mudah-mudahan pembangunan fisiknya dapat kita lakukan tahun ini,” kata Bobby Nasution saat meninjau lokasi banjir di Jalan Dr Mansyur Medan.

Selain pembangunan kolam retensi, jelas Bobby Nasution, Pemko Medan juga tengah melakukan penanganan drainase dan sungai. Sebab, keduanya merupakan kunci dalam mengatasi persoalan banjir di Kota Medan. “Drainase ini erat kaitannya dengan banjir yang terjadi di perkotaan karena tingginya intensitas hujan. Sedangkan sungai, terkait banjir yang terjadi akibat meluapnya sungai. Jadi penanganan keduanya harus sejalan, tidak boleh salah satu,” jelasnya.

Langkah Bobby Nasution dalam penanganan banjir ini disambut baik dan didukung penuh Kuswandi ST MT, dosen Fakultas Teknik Universitas Prima Indonesia (Unpri). Dikatakannya, pembangunan kolam retensi ini sangat tepat. Sebab, kolam retensi ini membantu mengurangi debit air dari genangan air yang datang atau masuk di kawasan/lokasi yang rawan akan genangan air.

“Pembangunan kolam retensi yang dilakukan Pak Wali ini sangat tepat. Karena seperti yang diketahui, kolam retensi ini dapat membantu dan mengurangi debit air di lokasi yang sering tergenang air,” ungkap Kuswandi.

Selain membuat kolam retensi, Kuswandi juga menyarankan perlu dilakukan perbaikan pada tebing sungai. Bila memungkinkan, sambungnya, pembuatan tanggul di sungai atau tempat-tempat tertentu juga harus dilakukan.

“Dalam mengatasi terjadinya banjir, pemerintah tidak bisa bergerak sendiri. Perlu juga dilakukan sosialisasi untuk menyadarkan masyarakat agar sadar dan bijak untuk tidak membuang sampah ke drainase ataupun sungai agar tidak mempersempit maupun mengurangi laju kecepatan air. Kalaupun saat datang banjir, sebagian volume banjir diarahkan kepada kolam retensi-retensi tersebut,” paparnya.

Sementara itu Dosen Sistem Drainase Perkotaan Fakultas Teknik Universitas Medan Area (UMA) Ir Nurmaidah MT menyarankan agar pembangunan kolam retensi yang dilakukan di atas lahan yang berdekatan dengan sungai. Setelah selesai dibangun, imbuhnya, kolam retensi harus dijaga dengan baik-baik sehingga kebedaraannya tidak akan sia-sia.

Selain pembangunan kolam retensi, penataan drainase dan sungai melalui normalisasi, Nurmaidah menambahkan, banjir atau genangan terjadi akibat saluran tidak dapat menampung air hujan. Menyikapinya, bilangnya, harus dicari penyebabnya. Bisa terjadi akibat endapan sedimen sehingga saluran menjadi dangkal maupun akibat timbunan sampah sehingga saluran tersumbat.

“Bisa juga akibat saluran rusak atau waktu pembuatan saluran dilakukan, dimensi penyambungan tidak sama baik itu bentuk maupun ukuran. Air akan mengalir dari tempat yang tinggi ke rendah sehingga harus dilihat elevasi permukaan tanah, serta harus dilihat saluran pembuangannya. Contoh saluran pembuangan yang ada di Kota Medan antara lain Sungai Babura. Dengan demikian ke sungai inilah air dibuang,” papar Nurmaidah.

Dalam melakukan normalisasi drainase, Nurmaidah juga berharap agar dilakukan sesuai dengan elevasi tanah dan melibatkan masyarakat setempat. “Saran saya aktifkan kembali gotong royong atau mempekerjakan orang untuk menggali saluran seperti di tahun 80-an. Di samping itu libatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan,” sarannya. (er)