Paguyuban Turonggo Lestari Budoyo Peringati Hari Jadi Ke 16 Tahun

0
111

MEDAN ketikberita.com | Dalam rangka melestarikan budaya seni jaran kepang atau jhatilan sekaligus memperingati hari jadi  yang ke 16 tahun paguyuban TURONGGO LESTARI BUDOYO, mengelar aksinya di jalan bajak 2H, tepatnya didepan Gg mangga kelurahan Harjosari 2 lingkungan 14 kecamatan Medan Amplas, Minggu (24/2/2019).

Kesenian Tari Kuda lumping merupakan sebuah seni tari yang dipentaskan dengan menggunakan peralatan berupa kuda tiruan yang terbuat  dari anyaman bambu. Dilihat dari ritmisnya tarian kuda lumping ini merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran jaman dulu ,yaitu sebuah pasukan kavaleri berkuda.Ini bisa dilihat dari gerakan seni tari kuda lumping yang dinamis,ritmis dan agresif, layaknya gerakan pasukan berkuda ditengah medan peperangan.

Inilah yang diperagakan anak anak TURONGGO LESTARI BUDOYO dalam menggelar aksinya, mereka menari dengn menggunakan anyaman bambu yang berbentuk kuda,guna untuk mengundang roh roh masuk kedalm tubuh mereka,lalu kemudian mereka melakukan atraksi atraksi seperti mengupas kelapa dengan gigi, makan beling dll.

Tak jarang pula sebahagian penonton ada yg tiba tiba  kerasukn dan masuk kelapangn bergabung dengan yg lain,jeritan ketakutanpun semakin mewarnai aroma mistis disekitar..”aku terkejut tiba tiba disamping awak kemasukan om aku lari lah takut” ungkap fenny 9 tahun kepada wartawan,

Memang Sejarah asal mula seni trai kuda lumping masih simpang siur, banyak diyakini adalah sebuah bentuk dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponogoro dalam menghadapai penjajah Belanda.

Dalam versi lain menyebutkan bahwa asal muasal kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah yang dibantu oleh Sunan Kalijaga melawan Bangsa Belanda yang menjajah tanah air. Versi lain juga menyebutkan bahwa tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin oleh sultan Hamengku Buwono I, raja mataram untuk menghadapi pasukan tentara Belanda.

Walau masyarakat kita belum tau asal usul kuda lumping ini, bagaimanapun kesenian ini jangan sampai hilang harus kita lestarikn sampai anak cucu kita”uangkap ketua TURONGGO LESTARI BUDOYO  bpk SUHARTO, kami mengharapkn kesenian tari kuda lumping atau jhatilan tetap ada dimedan berhubung sangat sedikit paguyuban seperti ini disini.jika ada yg memanggil kami  menghibur ditempat lain kami juga bersedia untuak datang kesana ungkapnya bapak SUHARTO pendiri paguyuban ini.

Dalam menjaga tali silaturrahmi sebagai pewaris seni TURONGGO LESTARI BUDOYO mengundang paguyuban lain dari kampung sebelah yaitu seni angguk MEKAR SARI ,kesenian ini hampir sama dengan jhatilan,cuma bedanya mereka tidak menggunakan media kuda,,mereka cuma menari nari  lalu kemudian kerasukan,kesenian ini bisa dikatakan moderen karena alat musik yg mereka pakai sudah menggunakn organ dan gendang,lain dengn jhatilan yg alat musiknya gamelan tidak ada alat musik moderen lainya.

Bapak Ir. H hardianto, caleg DPRD kota Medan dari partai bulan bintang yang juga hadir dalam acara itu memberi apresiasi pada kegiatan ini,semoga turonggo lestari budoyo tetap semangat semakin sukses tidak patah semangat untuk melestarikan kesenian ini, ungkap bapak Ir. H Hardianto kepada wartawan.(aris)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here