Bupati Aceh Tamiang Jajaki Kerjasama Guna Akselerasi Pembangunan Sektor Peternakan

54

ACEH TAMIANG ketikberita.com | Bupati Aceh Tamiang, Mursil, SH, M.Kn, (ketiga dari kiri) tengah mengobrol sembari berjalan melakukan “mini tour” meninjau padang peternakan yang dipandu oleh KTU BPTUHPT Padang Mangatas, Yanhendri (paling kiri), Rabu (15/1/2020) di BPTUHPT Padang Mangatas.

Payakumbuh – Humas: Di sela-sela perjalanan dinas ke Kota Payakumbuh, Bupati Aceh Tamiang, Mursil, SH, M.Kn, bersama Kepala Bappeda, Rianto Waris, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, Zulkarnain Putra, serta Kabag Humas Setdakab, Agusliayana Devita, juga mengadakan kunjungan kerja di Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) Padang Mangatas, Rabu (15/1/20), Padang Mangatas, Sumatera Barat.

Bupati Mursil bersama rombongan disambut langsung oleh KTU BPTUHPT Padang Mangatas, Yanhendri. Kepada KTU, diterangkan, kunjungan Bupati dimaksudkan melakukan penjajakan kerjasama dan peningkatan wawasan mengenai peternakan sapi ke BPTUHPT Padang Mengatas, Kab. Lima Puluh Kota.

Bupati Aceh Tamiang dalam penyampaiannya sangat mengapresiasi konsep kawasan peternakan yang dikembangkan di BPTUHPT Padang mangatas. Karenanya ia berharap dukungan penuh dari jajaran BPTUHPT untuk menduplikasi program peternakan serupa di kabupaten Aceh Tamiang.

Mendengar hal tersebut, Yanhendri, mengutarakan BPTUHPT Padang Mangatas, siap mendukung keinginan dan harapan Bupati serta masyarakat Aceh Tamiang. Yanhendri kemudian menjelaskan, beberapa dukungan yang dapat diberikan berupa; Pendampingan untuk akselerasi diseminasi dan penerapan teknologi; Hibah ternak sapi; Pembelian bibit sapi, terutama jenis sapi Simental, Limousin, dan sapi pesisir;

Selanjutnya, KTU BPTUHPT Padang Mangatas membawa serta Bupati dan Tim Pemkab melakukan “mini tour” untuk melihat sarana, prasarana dan lokasi padang peternakan yang luasnya mencapai 284 Ha.

Dikutip dari laman resmi, Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) dulunya bernama BPTU Padang Mengatas, pertama kali didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda (1916), ternak yang dikembangkan adalah kuda dan pada tahun 1935 didatangkan sapi Zebu dari Benggala India untuk dikembang biakan. Pada zaman Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) kegiatannya terhenti, Pada tahun 1950 oleh Wakil Presiden, Mohammad Hatta, dipugar kembali. Tahun 1951-1953 statusnya dijadikan sebagai Stasiun Peternakan Pemerintah dan di beri nama Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mengatas.

Pada tahun 1955 ITT Padang Mengatas merupakan stasiun peternakan yang terbesar di Asia Tenggara, di mana ternak yang dipelihara adalah ternak kuda, sapi, kambing dan ayam. Namun, ketika tahun 1958-1961 terjadi pergolakan PRRI, dan lokasi ITT Padang Mengatas dijadikan sebagai basis pertahanan PRRI. Keadaan ini menyebabkan ITT Padang Mengatas rusak berat.

Usai masa pemberontakan, Pemerintah Daerah Sumatera Barat pada tahun 1961 kembali membenahi sarana dan prasarana ITT. Tahun 1973-1974 Pemerintah Jerman mengadakan kajian di ITT Padang Mengatas. Berawal dari situ, mulai tahun 1974-1978 dilakukan kerjasama pembangunan kembali ITT Padang Mengatas antara pemerintah RI & Jerman melalui proyek Agriculture Development Project (ADP).

Tahun 1978 Proyek ADP berakhir dan diserahkan kepada Departemen Pertanian dengan nama Balai Pembibitan Ternak – Hijauan Makanan Ternak (BPT–HMT) Padang Mengatas sesuai dengan SK Menteri Pertanian RI No. 313/Kpts/Org/1978 dengan wilayah kerja 3 provinsi, Sumatera Barat, Riau dan Jambi dengan pembiayaan bersumber dari Pemda Sumbar dan Pemerintah Pusat.

Barulah tahun 1985 seluruh pembiayaan diambil alih oleh pemerintah pusat. Berdasarkan keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No.292/Kpts/OT.210/4/2002 tanggal 16 April 2002, dan berubah nama menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul – Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) Sapi Potong Padang Mengatas, dengan wilayah kerja meliputi seluruh provinsi di Indonesia.(ABS)