Biar Ngak ‘Asal Pengen’ Jadi Wartawan…

0
37
Abdul Halil SE wartawan ketikberita.com

MEDAN ketikberita.com | Bekerja menjadi wartawan atau pencari berita tentu tidak hanya sekadar tahu menulis dan melaporkan suatu kejadian. Lebih daripada itu, wartawan haruslah paham kode etik jurnalistik tentang keakuratan berita, privasi narasumber, pengujian informasi, hak narasumber, dan lain sebagainya.

Tidak ada pekerjaan yang mudah, pun juga jadi seorang wartawan. Selain dibutuhkan keberanian, jadi wartawan juga butuh komitmen dan passion untuk menyalurkan berita yang akurat dan layak dikonsumsi masyarakat luas. Kalau hanya sekadar melapor tanpa menguji, maka siapa saja pasti bisa jadi wartawan.

Memperingati Hari Pers Nasional, kamu yang punya cita-cita bekerja dalam bidang ini kudu tahu risiko apa saja yang akan kamu dapatkan saat terlibat dalam wilayah pekerjaan ini. Ini Faktanya!

1. Pekerjaan ini kental dengan risiko kematian.

Saat melakukan tugas liputan di tempat yang sedang terjadi kerusuhan atau bencana alam, kamu harus siap menghadapi hal-hal yang tidak terduga, termasuk kematian. Nyatanya, bukan hanya tentara yang rela mati bagi negara. Wartawan juga harus rela mati demi berita. Jadi kalau kamu tidak sungguh-sungguh ingin jadi wartawan, lebih baik jangan.

2. Bekerja dalam industri yang bersifat menuntut.

Bukan seperti di kantor dengan jam kerja yang pasti. Sebagai wartawan kamu akan dituntut selalu siap dan siaga. Kapanpun, dimanapun, apapun yang kamu lakukan, bagaimana perasaanmu, semua itu harus ditinggalkan demi mendapat berita eksklusif dari tempat kejadian langsung. Wartawan itu bekerja pada industri yang sifatnya menuntut. Menuntut waktu, kecepatan dan pastinya tenaga.

3. Jarang menemukan yang namanya akhir pekan.

Bagi seorang wartawan, akhir pekan bisa jadi bukanlah sebuah akhir pekan. Kamu harus selalu siaga dan siap meliput bahkan di akhir pekan. Walau kelihatannya hal ini melelahkan, tapi kamu yang sudah passion, pasti justru senang harus terus bekerja. Bahkan di akhir pekan sekalipun.

4. Namanya wartawan, kamu juga harus siap punya banyak musuh.

Karena pekerjaan wartawan adalah memberitakan, maka pastinya bukan hanya berita yang baik-baik saja. Berita buruk juga. Hal ini memicu adanya pro kontra dari berbagai macam pihak yang membaca ataupun mendengarkan berita yang kamu sampaikan. Dari situ, kamu bakal punya banyak musuh yang merasa tidak setuju dengan apa yang kamu tulis atau beritakan.

Akrab juga dengan yang namanya stres, apalagi deadline.

Wartawan itu selalu berada dalam naungan deadline tiada henti. Tekanan macam ini pastilah bikin stres dan sebal setengah mati. Kalau ada kejadian yang harus saat itu juga diliput, media tempatmu bekerja pasti berlomba dengan kecepatan untuk jadi media pertama yang menerbitkan. Di saat seperti inilah kamu akan akrab banget sama yang namanya stres.

6. Jadwal acara yang tak tentu?
Jangan kaget ya.

Sebagai wartawan, kamu akan dituntut untuk selalu siap siaga. Janjian dengan teman bisa jadi hal yang mustahil kalau ternyata saat itu ada kejadian yang harus kamu liput. Jadwalmu tidak akan menentu dalam sehari. Kamu akan terkejut sendiri dengan selalu berubahnya jadwal yang telah kamu rencanakan di awal.

7. Wartawan juga harus flexibel, mudah berpindah-pindah jika ada kejadian.

Buat kamu yang tidak betah atau tidak bisa bekerja dengan tempat yang berbeda setiap harinya, wartawan sepertinya bukan pekerjaan yang cocok untukmu. Pencari berita menuntutmu untuk fleksibel, aktif dan tanggap. Dimanapun kapanpun harus meliput, kamu harus siap bagaimanapun kondisinya. Dan juga, kamu harus segera menuliskan berita tersebut secepat yang kamu bisa.

8. Penolakan itu hal yang biasa, namun kamu perlu cara untuk mengakalinya.

Semua berita berhubungan dengan narasumber. Saat inilah kamu akan akrab dengan penolakan-penolakan yang tidak bisa kamu paksa. Kamu harus memutar otak dan mencari narasumber lain untuk menghasilkan berita yang terpercaya. Sebagai wartawan, kamu harus kebal dengan penolakan ini.

Kalau setelah mengetahui semua risiko ini kamu masih tetap ingin jadi wartawan, maka jangan berhenti dan terus kejarlah cita-citamu itu. Jadilah wartawan yang bonafit. Yang bukan hanya modal suara tapi juga pengetahuan. Buatlah negri ini lebih berbobot, dengan menyebarkan berita yang butuh diketahui semua orang, bukan hanya yang ingin didengar saja. (Abdul Halil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here