“Apa salahku Ucap Pdt. Openten Gulo”

0
135

GUNUNGSITOLI ketikberita.com | Saat disambangi oleh awak media, Pdt. Openten Gulo yang beralamatkan di Desa Binaka Kecamatan Gunungsitoli Idanoi kota Gunungsitoli Kepulauan Nias Sumatera Utara. Kamis (6/12).

Pdt. Openten Gulo (foto) sangat menyayangkan sekali atas tindakan Badan Pekerja Harian Gereja Bethel Indonesia (BPH GBI) yang mengambil keputusan secara sepihak tanpa pembuktian, dimana telah mengeluarkan surat BPH Nomor:118/S-XV/SK/BPH-GBI/IX/2018 tentang pembebasan tugas secara tetap terhadap saya.

Seandainya BPH GBI telah memiliki dasar bukti yang syah, saya harapkan kiranya dapat disampaikan kepada saya, namun bila BPH GBI tidak dapat menunjukkan bukti-bukti yang dimaksud, berarti surat keputusan pembebasan tugas secara tetap ini tidak sesuai dengan prosedur tata Gereja (inkonstitusional) dan mengandung fitnah dan pencemaran nama baik saya alias Hoaks. Apa salahku ucap Pdt Openten Gulo.

Sesuai dengan surat keputusan Nomor:118/S-XV/SK/BPH-GBI/IX/2018 tentang pembebasan tugas secara tetap terhadap saya. Dimana surat keputusan tersebut saya tolak bersama 98 orang pejabat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Kepulauan Nias yang telah menandatangani surat penolakan tersebut pada tanggal 21 Juli 2018, namun dari BPH GBI tidak pernah menanggapi.

Lebih lanjut Pdt. Openten Gulo menuturkan selama ini yang dituduhkan kepada saya tidak terbukti dan juga tidak pernah diberikan kepada saya kesempatan atas klarifikasi secara tuntas dengan menghadirkan berbagai pihak, sesuai dengan tata Gereja Pasal 87:2

Pdt. Openten Gulo mengingatkan Ketua Umum BPH GBI Pdt. Dr. Japarlin Marbun, M.Pd mengenai pembicaraan pada tanggal 5 Juni 2018 dan 17 Juli 2018 tempatnya di aula vip Graha Bethel yakni diantaranya : a). atas tuduhan yang Bpk Pdt. Dr. Japarlin Marbun, M. Pd sampaikan tentang perselingkuhan saya (Pdt.Openten Gulo) kepada anak salah seorang ketua perwil yang ada di BPD Kepulauan Nias GBai ; b) atas tuduhan penyembahan berhala dikuburan, almarhum Pdt. T. N. Waruwu ; c). Dugaan telah menerima suap dari Pdm. Nasoa’aro Waruwu, M. Th; d) atas tuduhan pelecehan dimedia sosial oleh Sdri Setiahati Ndruru.

Kiranya atas tuduhan diatas hendaknya agar dikonfrontir secara terbuka dengan semua pihak sehingga seluruh pejabat GBI Kepulauan Nias mengetahuai persoalan ini dan surat tersebut sudah disampaikan dengan tembusan ke Majelis pertimbangan (MP) GBI; ke anggota MPL GBI dengan mengharapkan agar surat keputusan pembebasan tugas secara tetap tersebut segera dicabut kembali sebelum merembes ke hal-hal lainnya ucapnya.

Sementara ditempat terpisah sebagai pelayan Jemaat dan mengawal Tata Gereja Pdt.Yunisokhi Ndraha menyampaikan ke awak media Sabtu (7/12), bahwa ada penyimpangan dari BPH GBI Pusat dari permasalahan ini, semestinya pihak BPH GBI dapat menegakkan kebenaran sesuai Tata Gereja, “siapa yang salah tetap salah dan yang benar tetap benar” ucap beliau.

Sebagai Jemaat GBI Kepulauan Nias, Kami telah menyelidiki bahwa masalah Pdt. Openten Gulo korban dari fitnah pada dirinya dan tidak terkait akan masalah yang diisukan selama ini atau sering kita sebut berita yang tidak jelas (hoax).

Akibat tersebut Badan Pekerja Daerah (BPD) Kepulauan Nias, menjadi dua kubu dan pembiaran kiranya BPH GBI cepat menyikapi akan persoalan ini sehingga kekeliruan cepat terselesaikan.

Sedangkan Gereja Bethel Indonesia (GBI) dalam hal ini Jemaat Nikotanozao Gunungsitoli Alo’oa oleh Pdt.Davit K Hia melalui via selulernya ke awak media menyampaikan bahwa, seyogianya dalam hal melaksanakan Tata Gereja ini merupakan pedoman organisasi yang penting sebagai dasar pelaksanaan tugas pelayanan dan pegangan bagi seluruh pejabat dan anggota jemaat GBI.

Keputusan BPH GBI yang dialami Pdt.Openten Gulo adalah keputusan yang tidak berdasar atau keputusan yang mandul dimana tidak prosedural sesuai tata Gereja sebagai Gereja Bethel indonesia, akibat tindakan tersebut pejabat GBI dikepulauan Nias menjadi dualisme.

Sesuai Firman Tuhan:
Bulu yang terurai patah tidak dipatahkannya dan suluh yang sudah padam apinya tidak dimatikan.

Kiranya BPH GBI menyampingkan kepentingan pribadi, urus kepentingan organisasi, dengan harapan agar BPH GBI dalam hal ini memulihkan dan meninjau kembali kekeliruannya terhadap Pdt.Opeten Gulo sehingga tidak menjadi dualisme BPD dikepulauan Nias sehingga Nias ini aman dan kondusif kembali, ujarnya.(Wardi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here